Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Januari 2019 | 01.15 WIB

Merapi Terus Bergejolak, Skema Pembelian Ternak Warga Disiapkan

TERNAK WARGA: Antisipasi kericuhan di lapangan, BPBD Jateng siap mencarikan dan menyiapkan skema pembelian ternak warga di lereng Gunung Merapi. - Image

TERNAK WARGA: Antisipasi kericuhan di lapangan, BPBD Jateng siap mencarikan dan menyiapkan skema pembelian ternak warga di lereng Gunung Merapi.

JawaPos.com – Tujuh bulan lebih sudah semenjak Gunung Merapi memasuki status waspada level 2. Kondisi yang tak berubah berbulan-bulan lamanya itu otomatis membuat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan kabupaten/kota bersinggungan mengambil langkah. Salah satunya yakni dengan siap mencarikan pembeli ternak milik warga yang tinggal di sekitar lereng gunung.


Kalakhar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Sarwa Pramana mengatakan, pembelian ternak ini merupakan salah satu langkah antisipatif yang bisa saja diambil, khususnya bagi wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Merapi. Utamanya saat situasi makin genting atau dalam artian status Gunung Merapi sudah meningkat.


“Mudah-mudahan kebijakan pemerintah muncul di level Awas atau apa, ternak mereka dibeli dulu. Supaya masyarakat nyaman, terlindungi, merasa pemerintah hadir untuk bisa membantu pembelian harta karun mereka (ternak) dengan harga pasar,” katanya saat dijumpai JawaPos.com baru-baru ini.


Sarwa berpendapat jika hewan ternak para warga sudah terbeli, proses pengungsian kala nanti memang evakuasi dibutuhkan, bakal menjadi lebih mudah. “Kalau nggak, saya khawatir mereka (saat sudah diungsikan) tiap hari naik (kembali) melihat ternak mereka. Padahal ini zona merah,” sambungnya.


Mekanisme pembelian ternak ini, lanjutnya, adalah dengan Pemerintah Kabupaten/Kota mencarikan pengusaha lokal yang mau menampung ‘raja kaya’ saat Merapi level minimal awas. Akan lebih mudah, menurut Sarwa, manakala Pemerintah Provinsi mau turun tangan nanti.


Sementara Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengatakan saat ini sudah ada kandang komunal yang diperuntukkan bagi hewan ternak para pengungsi. Sekarang sudah ada kelompok-kelompok peduli ternak. “Karena ternak itu dalam konteks orang Jawa adalah kekayaan mereka, kemarin pengalaman ada yang menjadi korban saat menyelamtkan ternaknya,” imbuhnya.


Soal kandang komunal ini pun, Sarwa memastikan, bahwa lokasinya berada di tempat yang aman dan cukup luas tentunya. Ia pun menegaskan jika ini memang langkah awal yang kemudian bisa juga digunakan sebagai alternatif manakala tidak ada pengusaha lokal yang mau membeli ternak.


“Kalau tidak ada pengusaha yang membeli, nanti pasti terjadi perdebatan di lapangan saat mengungsi. Tarik ulur, orang dulu atau hewan ternak dulu. Karena masyarakat sana maunya hewan dulu. Dan ini sudah ditunjuk di lapangan mana sudah dibuat,” tandasnya.


Untuk diketahui, Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) dan Jawa Tengah, sejak Mei 2018 hingga kini masih terus bergejolak. Setiap harinya puluhan kali gunung api aktif 'waspada' itu mengalami guguran yang terdeteksi dari alat pemantau milik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta.


Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida menjelaskan, sejak Mei 2018 lalu gunung ini disebutnya mengalami fase erupsi yang bersifat efusif. Berupa pembentukan kubah lava baru, dengan adanya tekanan dari dalam perut kawah. “Intensitas pertumbuhannya masih rendah. Namun statusnya tetap waspada,” katanya, baru-baru ini.


Data terakhirnya dalam aktivitas Merapi yang dirangkum sejak 4 sampai 10 Januari 2019, secara visual cuaca cerah terjadi pada pagi dan malam hari. Kemudian untuk siang dan sore hari berkabut.
Asap yang keluar dari kubah lava teramati berwarna putih, tebal, dengan tekanan gas lemah. Tinggi maksimum 450 meter teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan pada tanggal 10 Januari 2019 lalu.


Dari aktivitas selama periode itu disimpulkan, kondisi kubah lava masih stabil dengan pertumbuhan yang relatif rendah. Namun secara umum aktivitasnya masih cukup tinggi, untuk itu masih dalam status tingkat II atau Waspada.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore