Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Juli 2023, 14.34 WIB

Menilik Sejarah Treteg Tosono yang Semakin Rusak Dimakan Zaman

Jembatan Lama Kertosono atau warga sekitar mengenalnya dengan nama Treteg Tosono. - Image

Jembatan Lama Kertosono atau warga sekitar mengenalnya dengan nama Treteg Tosono.

JawaPos.com–Kecamatan Kertosono terletak di bagian timur Kabupaten Nganjuk, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Jombang dan Kabupaten Kediri. Kertosono terletak di persimpangan jalur utama Surabaya-Jogjakarta dan jalur menuju Kediri atau Tulungagung.

Menurut Pemerintah Kabupaten Nganjuk, nama Kertosono konon diambil dari nama seorang pahlawan dari daerah Kuncen, Kecamatan Patianrowo. Dikisahkan dahulu hidup seseorang yang bernama Kertosono atau biasa dipanggil Mbah Kerto.

Mbah Kerto mempertahankan daerah tersebut dari jajahan Belanda. Karena itu, di Kecamatan Kertosono tidak ada tempat yang bernama Kertosono ataupun desa Kertosono, karena Kertosono adalah nama seorang pahlawan.

Di Kertosono, terdapat sebuah jembatan yang menjadi ikon. Namanya Jembatan Lama Kertosono atau warga sekitar lebih mengenalnya dengan nama Treteg Tosono.

Dilansir dari website resmi Pemerintah Kabupaten Nganjuk, jembatan tersebut menyimpan banyak sejarah. Mulai dari zaman penjajahan Belanda hingga tragedi kelam pasca kemerdekaan yakni G 30S PKI.

Peristiwa saat penjajahan Belanda berkaitan erat dengan Mbah Kerto. Akun TikTok penggemar sejarah @jadimaukemana, baru-baru ini mengunggah video yang membahas tentang sejarah Jembatan Lama Kertosono. Menurut penuturan akun tersebut dalam video yang diunggah pada Kamis (27/7), jembatan itu merupakan saksi bisu pahlawan tanah air berjuang meraih kemerdekaan.

Dahulu tentara Belanda membangun jembatan tersebut sebagai jalur penghubung untuk mempermudah memasuki dan menjajah wilayah Nganjuk. Namun pasca proklamasi kemerdekaan dan dimulainya Agresi Militer II, para pejuang di kawasan itu yang dikomandoi Mbah Kerto berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan berupaya meledakkan jembatan. Maksud dari peledakan itu untuk mencegah atau menghambat gerak laju pasukan Belanda yang ingin kembali menjajah.

Namun para pejuang kala itu mengalami kegagalan dan jembatan tersebut tidak roboh. Disebut hanya mengalami kerusakan di bagian permukaan aspal. Akhirnya para pejuang menempatkan ranjau darat di sepanjang jalan antara Kertosono-Baron dan berhasil melumpuhkan kendaraan lapis baja milik Belanda.

Pertumpahan darah pun tak terelakkan dan terjadi di atas jembatan itu. Bahkan konon dahsyatnya pertempuran kala itu dinilai setara dengan pertempuran di Kota Surabaya. Berkat kegigihan Mbah Kerto bersama pasukannya, wilayah Nganjuk dan sekitarnya mampu dipertahankan sekaligus memukul mundur tentara Belanda.  Peristiwa itu kemudian banyak dikenal dengan nama Perang Treteg Tosono.

Treteg berasal dari bahasa Jawa yang berarti jembatan dan Tosono merupakan kependekan dari Kertosono.

Video tersebut mendapat 1,1 juta views dan 75,3 ribu likes. Beberapa warganet turut meramaikan kolom komentar video TikTok tersebut.

Mbah Kerto ketika meninggal dikebumikan di bawah Pohon Sono (Angsana/Sonokembang), makanya daerah tersebut dinamai Kertosono,” tulis akun @jokamtv.

Aku lahir di Kertosono ndak tau cerita ini jadi malu,” tulis akun @medavipertiwi.

Sayangnya, jembatan bersejarah tersebut kini dalam kondisi yang memprihatinkan. Hanya meninggalkan kesan kuno dan rasa takut karena kondisi jembatan yang sudah mulai rapuh, besi berkarat dan keropos, terutama di bagian tengah jembatan.

Fondasinya pun juga sudah terlihat miring. Hal tersebut disebabkan karena umur jembatan yang sudah tua dan tidak kuat menahan derasnya arus Sungai Brantas. Di sebelah selatan jembatan lama didirikan jembatan baru Kertosono yang saat ini menjadi akses jalan utama.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore