
Melihat Kehidupan Malam di Kota Depok yang Tak Pernah Tidur
JawaPos.com - Kehidupan malam sudah menjadi dari gaya hidup warga kota. Di Depok, kehidupan malam menjadi trend dan kebiasaan. Jarum jam menunjuk angka 00:30 WIB, Minggu (26/3). Puluhan motor yang didominasi pengendara remaja keluar dari Taman Merdeka Kecamatan Sukmajaya.
Mereka terpaksa keluar lantaran tim Jaguar dari Polresta Depok masuk dan membubarkan tongkrongan mereka. “Biasanya langsung pada bubar,” kata Parmuji, tukang kopi yang berjualan di Jalan Sentosa Raya, Kecamatan Sukmajaya.
Parmuji, satu dari ribuan orang yang mencari nafkah di Kota Sejuta Belimbing. Baginya, berjualan malam tidak kalah dengan siang hari. Malahan, lebih ramai di malam hari lantaran banyak anak muda yang membawa kendaraan mampir sejenak untuk membeli kopi dan aneka minuman yang dijajakannya.
“Mulai banyak yang nongkrong, ya dari jam 10 malam ke atas, biasanya sampai jam 2 atau 3 pagi. Tapi kalau sudah sepi jam 1, saya juga tutup,” tutur Parmuji.
Tepat pukul 01:50 WIB, dari arah Jakarta melintasi fly over UI, lewat sedikit terdapat sebuah tugu bertuliskan ‘SELAMAT DATANG DI PROP. JAW R”. Tulisan itu tidak lengkap, entah memang copot akibat tergerus waktu atau sengaja dicopot oknum.
Masuk lebih ke dalam, plang Selamat Datang Kota Depok nyaris tertutup pohon yang ditanam di tengah separator jalan pembelah Margonda. Tanpa penerangan, kontras dengan neon sign toko-toko yang ada di sepanjang jalur utama Kota Depok.
Nama jalan yang diambil dari pahlawan Kota Depok itu lalu-lalang kendaraan bermotor masih tampak, meski volumenya tidak sebanyak di siang hari.
Bahkan, tukang ketoprak pun masih dengan lincah menggerakan codet kayunya melumat biji kacang memenuhi pesanan pengendara yang istirahat di lapaknya.
Hingga pukul 02:01 WIB pun masih ada pengendara ojek online yang tengah beristirahat dekat Gang Kober Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, sambil berharap ada customer yang masuk melalui aplikasi di telepon pintarnya.
Laju roda kendaraan tim Radar Depok berhenti tepat di celungan Hotel Margo di bawah Jembatan Penyebrangan Orang (JPO), terdengar suara yang diputar berulang-ulang ‘tahu bulat digoreng dadakan, hangat-hangat’.
Gerobak motor yang disulap menjadi tempat usaha tahu bulat milik Yana Suryana pukul 02:20 WIB masih menggoreng puluhan tahu bulat. Beberapa pengendara mobil pun dengan setia menunggu pesanannya masak.
“Kalau malah tidak digoreng banyak, takut cepat dingin,” tutur Yana yang malam itu ditemani putrinya.
Kata dia, pengendara sering berhenti untuk membeli dagangannya. Bahkan, menjadi tempat mangkal ojek online kala malam. “Kadang sampai jam 3, baru pulang. Tapi kalau sudah habis, jam 1 juga sudah balik,” kata Yana.
(pj/cky/yuz/JPG)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
