Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Juli 2017 | 22.21 WIB

Elegi Pembuat Ikan Asin di Tengah Kelangkaan Garam

Pengolah ikan asin sedang menjemur ikan di tempat penjemuran di Kelurahan Pasir Nan Tigo, Kecamatan Kototangah, Kota Padang. - Image

Pengolah ikan asin sedang menjemur ikan di tempat penjemuran di Kelurahan Pasir Nan Tigo, Kecamatan Kototangah, Kota Padang.

Langka dan mahalnya harga garam ternyata memiliki efek domino. Tidak hanya bumbu masakan ibu rumah tangga saja yang terasa kurang sedap, pembuat ikan asin pun demikian. Usahanya semakin sulit berlanjut, karena sulitnya mendapatkan garam. Seperti yang terjadi di pusat produksi ikan asin kawasan Pasia Jambak, Kelurahan Pasia Nan Tigo, Kecamatan  Kototangah, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar).


Rudi Efendi—Padang


Siang itu pantai Pasia Jambak terlihat ramai di kunjungi wisatawan. Baik wisatawan lokal maupun dari daerah lain. Lokasi itu memang terkenal dengan wisata kulinernya. Lauk pukek adalah spesifiknya.


Di balik itu, di sudut-sudut perkampungan warga, terdapat beberapa masyarakat memiliki usaha olahan ikan menjadi ikan asin yang dilakukan secara tradisional.


Di suatu rumah, tampak beberapa orang warga sedang merenung sambil memandangi ikan yang sedang mereka jemur. Murni, 52, salah seorang pembuat ikan asin secara tradisional ini mengaku sudah menggeluti usaha tersebut sejak di usai sekolah dasar (SD).


Mengolah ikan menjadi ikan asin pun sumber penopang hidup satu-satunya. Dalam menjalani usaha ini Murni dibantu sang suami. Akan tetapi semenjak harga garam terus merangkak tajam sejak sebulan terakhir usaha ikan asin milikinya menjadi sangat terganggu.


”Kenaikan garam sudah tidak masuk akal lagi. Dari sebelumnya Rp 80.000 hingga Rp 100.000/karung, sekarang sudah menjadi Rp 350.000/karung. Harga seperti itu belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.


Menurut warga RT 01/RW 09 itu, drastisnya lonjakan harga garam tak ayal pendapatannya turun drastis. Jika biasanya, dia mampu meraup keuntungan Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per hari, sekarang hanya Rp 50 ribu per hari.


Dan pernah pula harus menanggu rugi, akibat biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. ”Kami tidak bisa menaikkan harga ikan asin. Kalau dinaikkan, takut pelanggan kami kabur,” jelasnya.


Hal serupa juga dialami Yanti, pembuat ikan asin di UPTD Sentra Pengolahan Hasil Perikanan Pasia Nan Tigo, Kota Padang. ”Kami kecewa dengan pemerintah, sudah beberapa bulan, harga garam belum juga diturunkan. Masak, negara sebesar ini mempunyai laut yang sangat luas, bisa-bisanya harga garam semahal seperti sekarang," sesal Yanti.


Kini garam yang dibeli Yanti bukan lagi produksi dalam negeri, melainkan garam impor dari Australia. Untuk memproduksi ikan asin, biaya terbesar bersumber dari harga garam. Adapun langkah-langkah memproduksinya antara lain, ikan terlebih dahulu direndam  dengan air garam selama 30 menit. Setelah itu, ikan direbus sekitar 10 menit. Lalu, ikan dijemur dari pagi sampai sore sampai matahari terbenam.


”Kalau dari segi harga ikan saat ini cenderung stabil. Cuaca sangat kondusif juga berimbas terhadap banyaknya tangkapan nelayan. Ikan-ikan yang kami olah menjadi ikan asin antara lain ikan maco," sambung Yanti.


Ikan basah yang diolah ikan asin itu dibeli dengan harga beragam Rp 10.000 per kg untuk jenis maco, gambolo Aceh Rp 40.000/kg, bada Aceh Rp 55.000/kg.


Menanggapi kenaikan harga garam saat ini, Kepala Dinas Perdagangan Padang, Endrizal mengatakan pihaknya sedang mengusahakan agar peredaran serta penjualan garam kembali stabil.


Di samping itu, ia juga sedang menyelidiki terhadap adanya indikasi ulah distributor yang mempermainkan harga garam. ”Kami tidak akan segan-segan melaporkan kepada pihak berwajib jika memang distributor menjadi salah satu penyebab kenaikan harga garam. Selain itu, kami juga meminta pihak-pihak terkait untuk membantu kami. Salah satunya agar volume garam untuk kota Padang dapat ditingkatkan,” jelasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore