Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Maret 2017 | 20.38 WIB

Garuda Gagal Landing di Bandara Rahadi Oesman, Ini Penyebabnya

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Pesawat Garuda Indonesia sempat mengalami gagal mendarat di Bandara Rahadi Oesman Ketapang, Kalbar, Sabtu (18/3) sekitar pukul 11.45. Penyebabnya diduga karena landasan pacu (runway) yang relatif pendek.


Saat itu, pesawat buatan Boeing yang digunakan Garuda mencoba mendarat dari arah selatan dan nyaris menyentuh landasan pacu. Tiba-tiba, pesawat terus melaju. Kembali mengudara. Beberapa menit kemudian, datang lagi dari arah utara. Kali ini, mendarat dengan sempurna.


“Banyak faktor penyebab dari pada gagalnya pesawat itu mendarat, dan salah satunya landasan pacu yang pendek,” tutur Direktur Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud) Kementerian Perhubungan RI Agus Santoso kepada Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group). 


Agus kebetulan melihat peristiwa tersebut. Ia hendak menuju Pontianak untuk balik ke Jakarta. Pendeknya landasan pacu pada Bandara, diakui Dirjen Hubud yang resmi dilantik Menhub Budi Karya pada 24 Februari 2017 ini, sudah pasti memiliki risiko. “Anda tahu ndak sih dengan go around (sudah mau mendarat tapi tidak jadi, red)? Dan go around ini banyak faktor penyebabnya, salah satunya landasan yang pendek,” terangnya. 


Memang, seiring berjalannya waktu, kesibukan kian meningkat di Bandara Rahadi Oesman. Bahkan, Agus menyebut, jika dilihat dari dimensinya, Bandara Rahadi Oesman termasuk melayani penerbangan yang tergolong sibuk. 


“Karena di sini (Ketapang, red) dari dulu melimpah hasil hutan. Dan setelah hasil kayu habis diganti dengan perkebunan sawit, dan muncul lagi hasil tambang yang luar biasa, inilah yang menjadikan Ketapang ini banyak dikunjungi oleh pekerja-pekerja profesional maupun pekerja-pekerja berbagai level lainnya,” papar dia. 


Sehari sebelumnya, Agus dan staf meninjau kondisi Bandara. Hasilnya, mereka memantau bahwa intensitas penerbangan di Bandara Rahadi Oesman relatif tinggi. Rata-rata pertumbuhan penumpang, diakuinya, luar biasa dibanding tahun-tahun sebelumnya. 


Nah, untuk menampung pesawat-pesawat yang kapasitasnya besar dengan spin (putaran) dan wing (sayap) yang lebar, maka seharusnya Bandara Rahadi Oesman berklasifikasi besar. Sebab, lebar runway street (tempat pesawat mengambil ancang-ancang dalam takeoff atau juga sebagai tempat landing) ke kiri 150 dan kanan 150. Sehingga total lebar Bandara (melintang) harusnya 300 meter. 


Ternyata, sambung Agus, Bandara Rahadi Oesman hanya 150 meter. Artinya, masih mengalami kekurangan paling tidak dua kali luas saat ini. “Baru ditinjau dari arah melintangnya, belum lagi dari segi memanjangnya,” ujar dia.


Untuk sisi memanjang, ia menjelaskan, pihaknya sudah merancang sepanjang 1.650 meter. Akan tetapi yang di-declare IP (diklarifikasi informasi untuk penerbangan) hanya 1.400 meter. Dengan demikian, masih kurang 250 meter.


Kekurangan ini, diakui Agus, telah dibicarakan dengan Pemkab Ketapang. Bahkan, ia meminta pemerintah setempat membebaskan lahan di sekitar Bandara. Dengan harapan, runway di Bandara ini tidak mubazir dan 1.650 meter bisa dipakai semuanya.


Sejauh ini, runway Bandara baru 1.400 meter yang artinya masih pendek. Ini berdampak bagi si pengemudi pesawat. “Kan pilot tidak berani untuk mendarat terlalu rendah, jadi dia harus ada ancang-ancang, tapi di situ dia harus shut down. Nah kalau terjal kasian dengan pilotnya untuk mengempukan pesawat. Ini semua merupakan dasar daripada potensi-potensi adanya gangguan terhadap penerbangan,” terangnya. (Kamiriluddin/Mohamad iQbaL/fab/JPG)

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore