Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Juli 2017 | 07.14 WIB

Konflik Buaya Versus Manusia Makin Panas, 6 Nyawa Melayang

Warga baru saja menangkap buaya - Image

Warga baru saja menangkap buaya

JawaPos.com - Habitat buaya di sungai yang ada di Kecamatan Sebuku mulai terganggu karena makin padatnya aktvitas masyarakat di sekitar sungai. Akibatnya konflik antara hewan bergigi tajam dengan manusia itu makin runyam.


Buaya-buaya berukuran besar itu pun kerap memangsa manusia dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya, kumpulan aligator itu pun diburu warga. Karena dianggap mengancam.


Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) pun menilai peristiwa buaya memangsa manusia ada beberapa penyebab. 


Pertama, habitatnya yang mulai terganggu. Kedua pada saat kejadian korban ada di sekitar habitat buaya, serta sumber makanannya yang menipis.


Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Berau, BKSDA Kaltim Aganto Seno menjelaskan, sekilas apa yang terjadi saat ini, diduga kuat lantaran habitat pemangsa daging ini sudah terancam. 


“Jika fenomena yang terjadi di Sebuku, diduga kuat lantaran sejumlah habitat asli para kawanan buaya tersebut telah terganggu,” ujarnya kepada Radar Nunukan (JawaPos Group), (18/7).


Dilanjutkan Aganto, penyebab lainnya yang kerap menjadi alasan adalah menipisnya sumber makanan hewan pemakan daging itu. 


Jika hal itu terjadi, dapat menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang beraktivitas di sungai yang kapan saja dapat menjadi santapan hewan purba ini.


“Karena, dalam kondisi lapar, para predator ini bisa saja memasuki kawasan permukiman warga. Bila tidak segera diantisipasi, kemungkinan besar jatuhnya korban akan terus bertambah,” ungkapnya.


Diketahui, populasi buaya di sepanjang Sungai Tenggaruk dan Sungai Salongan di Kecamatan Sebuku diperkirakan sudah mencapai ratusan ekor. 


Akibatnya, menjadi ancaman keselamatan bagi warga Sebuku yang bekerja sebagai nelayan, serta bagi warga yang bermukim di bantaran sungai.


Untuk itu, tindakan tegas dapat dilakukan warga terhadap buaya ketika buaya mengancam nyawa manusia. Dikarenakan, buaya merupakan hewan yang dilindungi.


Saat sungai sedang surut, tidak jarang buaya berjemur di pinggiran sungai. Hal itu membaut warga tidak berani mendekati sungai tersebut. 


“Semua buaya dilindungi. Namun, jika keberadaannya mengancam nyawa manusia dapat dibunuh,” tambahnya.


Terbukti, peristiwa warga yang menjadi korban keganasan buaya muara Sebuku pada Minggu (18/6) lalu adalah Tahir (38) yang harus kehilangan tangan kirinya. 

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore