
Warga baru saja menangkap buaya
JawaPos.com - Habitat buaya di sungai yang ada di Kecamatan Sebuku mulai terganggu karena makin padatnya aktvitas masyarakat di sekitar sungai. Akibatnya konflik antara hewan bergigi tajam dengan manusia itu makin runyam.
Buaya-buaya berukuran besar itu pun kerap memangsa manusia dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya, kumpulan aligator itu pun diburu warga. Karena dianggap mengancam.
Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) pun menilai peristiwa buaya memangsa manusia ada beberapa penyebab.
Pertama, habitatnya yang mulai terganggu. Kedua pada saat kejadian korban ada di sekitar habitat buaya, serta sumber makanannya yang menipis.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Berau, BKSDA Kaltim Aganto Seno menjelaskan, sekilas apa yang terjadi saat ini, diduga kuat lantaran habitat pemangsa daging ini sudah terancam.
“Jika fenomena yang terjadi di Sebuku, diduga kuat lantaran sejumlah habitat asli para kawanan buaya tersebut telah terganggu,” ujarnya kepada Radar Nunukan (JawaPos Group), (18/7).
Dilanjutkan Aganto, penyebab lainnya yang kerap menjadi alasan adalah menipisnya sumber makanan hewan pemakan daging itu.
Jika hal itu terjadi, dapat menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang beraktivitas di sungai yang kapan saja dapat menjadi santapan hewan purba ini.
“Karena, dalam kondisi lapar, para predator ini bisa saja memasuki kawasan permukiman warga. Bila tidak segera diantisipasi, kemungkinan besar jatuhnya korban akan terus bertambah,” ungkapnya.
Diketahui, populasi buaya di sepanjang Sungai Tenggaruk dan Sungai Salongan di Kecamatan Sebuku diperkirakan sudah mencapai ratusan ekor.
Akibatnya, menjadi ancaman keselamatan bagi warga Sebuku yang bekerja sebagai nelayan, serta bagi warga yang bermukim di bantaran sungai.
Untuk itu, tindakan tegas dapat dilakukan warga terhadap buaya ketika buaya mengancam nyawa manusia. Dikarenakan, buaya merupakan hewan yang dilindungi.
Saat sungai sedang surut, tidak jarang buaya berjemur di pinggiran sungai. Hal itu membaut warga tidak berani mendekati sungai tersebut.
“Semua buaya dilindungi. Namun, jika keberadaannya mengancam nyawa manusia dapat dibunuh,” tambahnya.
Terbukti, peristiwa warga yang menjadi korban keganasan buaya muara Sebuku pada Minggu (18/6) lalu adalah Tahir (38) yang harus kehilangan tangan kirinya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
