
Barang antik yang ditemukan di Sei Nyalo Mudiak Aia, kawasan wisata Mandeh, Kabupaten Pessel, Sumbar.
JawaPos.com - Ditemukannya barang antik yang diduga sebagai peninggalan sejarah di Nagari Sei Nyalo Mudik Air, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat (Sumbar) dianggap sebuah kewajaran. Karena daerah itu dulu merupakan pusat pada sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI, jalur perdagangan internasional.
Sejarawan dari Universitas Andalas (Unand) Gusti Asnan menyebutkan, penemuan benda-benda itu merupakan hal wajar, mengingat pada sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI, kawasan Pessel merupakan jalur perdagangan dan persinggahan kapal dagang di kawasan tepi barat Sumatera.
“Sejarahnya mulai dari kawasan Tarusan hingga Indrapura merupakan kawasan perdagangan yang sangat padat. Banyak kapal-kapal pelaut dari berbagai negara yang berlabuh di kawasan itu,” ujar Gusti Asnan seperti dilansir Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Rabu (17/5).
Menurut dia, setelah penemuan itu bisa saja nanti akan ditemukan lagi benda-benda peninggalan sejarah lainnya. Di samping itu benda-benda asal Tiongkok banyak diperdagangkan dari berbagai negara ketika melintasi perairan itu.
“Portugis, Belanda, Prancis, Tiongkok, Arab, dan negara-negara lainnya pastinya akan membawa benda dagangan dan bisa saja dalam bentuk piring, mangkok, guci dan lain sebagainya. Bahkan, jika dicari di sekitar kawasan itu bisa saja akan banyak ditemukan benda-benda antik lainnya,” jelas Gusti Asnan.
Gusti Asnan menyarankan agar benda-benda tersebut diserahkan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) sehingga bisa dilakukan penelitian lebih lanjut, termasuk mengetahui umur dan pada masa benda itu ada. “Kondisinya juga akan lebih aman dan terpelihara,” imbuhnya.
Ketua Pusat Studi Gender, Perubahan Sosial, dan Multikultural FIS UNP Siti Fatimah mengaku dirinya telah menyarankan para penemu benda itu agar mengamankannya. Setelah itu, dirinya akan kirim tim untuk mengkajinya.
Perempuan yang telah banyak meneliti budaya, peninggalan sejarah dan cerita rakyat Mandeh ini, memperkirakan itu merupakan barang-barang dagangan masa Islamisasi. “Bila dikaitkan cerita-cerita rakyat di kawasan wisata Mandeh tersebut, maka ini memperkuat sejarah perdagangan di pantai barat Sumatera. Artinya Sei Nyalo termasuk bagian dari bandar sepuluh, sebagai tempat transit para pedagang di masa lalu,” jelas Siti Fatimah. (cr17/uni/iil/JPG)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
