Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Februari 2017 | 04.06 WIB

Harga Cabai Rawit Melambung, Petani Pilih Menginap di Ladang

HAMPIR PANEN: Kades Kedungcangkring, Jabon, Sidoarjo Zainudin Fanani menemui Mahmud, salah seorang warga yang tiga hari terakhir menginap di ladang cabai rawit. - Image

HAMPIR PANEN: Kades Kedungcangkring, Jabon, Sidoarjo Zainudin Fanani menemui Mahmud, salah seorang warga yang tiga hari terakhir menginap di ladang cabai rawit.


JawaPos.com- Seminggu terakhir, beberapa warga Kedungcangkring, Jabon, Sidoarjo yang berprofesi petani memilih bermukim di ladang. Mereka menjaga tanaman cabai yang siap panen. Salah satunya adalah Mahmud. Orang-orang di sekitar kampung biasa memanggil kakek 65 tahun itu dengan Mbah Mud.



Saat ditemui Jawa Pos Jumat (10/2), Mbah Mud sedang tertidur dalam gubuk yang terbuat dari beberapa lapis seng dan kayu. ”Sudah tiga malam saya tidur di sini,” ujarnya setelah bangun, lantas tersenyum ramah. ”Saya tambahi seng supaya nggak panas dan nggak kena hujan,” lanjutnya.



Dia harus menjaga ladang tersebut beberapa malam terakhir. Sebab, dia tidak ingin cabai-cabai yang siap petik dua minggu ke depan itu mengalami gagal panen. Selain hama, dia mewaspadai kemungkinan adanya pencurian terhadap komoditas yang saat ini harganya meroket tersebut. Dia harus menjaga aliran air di sekitar lahan cabai agar tak mudah busuk.



Mahmud menjelaskan, dirinya mengandalkan hasil bercocok tanam di atas lahan miliknya yang hanya 0,5 hektare tersebut. ”Apalagi, sawah saya dekat jalan. Jadi, harus saya jaga supaya aman,” jelasnya, lalu tersenyum lebar.



Cabai itu dijual Rp 90–100 ribu kepada tengkulak atau pedagang pasar. Nilai tersebut sesuai dengan harga pasar dan tawaran yang diberikan. Rata-rata, lanjut dia, petani lain mendapat penawaran dengan harga serupa dari pedagang pasar maupun tengkulak.



Bukan hanya Mahmud. Di sepanjang areal persawahan yang melintang dari Polsek Jabon hingga Jembatan Porong, banyak petani lain yang menginap di gubuk-gubuk darurat beberapa minggu terakhir. Sama seperti Mahmud, mereka khawatir cabai-cabai itu gagal panen. Mereka bolak-balik menengok ke sekitar lahan untuk memastikan ladangnya aman. Mereka hanya meninggalkan ladang tersebut untuk makan, mandi, dan buang air.



Kades Kedungcangkring Zainudin Fanani menyampaikan, banyak warga yang memutuskan bermukim sementara di ladang sejak dua minggu terakhir. Cabai rawit memang tumbuh subur di desa itu. ”Di sini, warga ngandalkan tanaman cabai rawit. Kadang juga terong. Apalagi, cabai rawit sekarang mahal sehingga dijaga ketat,” ungkapnya. Kedungcangkring terbagi dalam 7 RW. Mayoritas warga bercocok tanam.



Beberapa pekan ke depan, Zainudin mengaku telah menginstruksi satuan pengaman desa dan masyarakat desa untuk saling waspada. Hal itu dilakukan untuk menjaga ketenteraman desa. Pihaknya juga menugaskan beberapa perangkat untuk ikut memantau keamanan tanaman cabai milik warga dari hari ke hari.



Hingga kemarin, harga cabai rawit di Sidoarjo terpantau tinggi. Yakni, Rp 100–130 ribu per kilogram. Di Pasar Baru Porong, harga cabai rawit cukup bervariasi. Ada pedagang yang membanderol Rp 110 ribu, Rp 115 ribu, maupun Rp 120 ribu. Bergantung kualitas.



Solehah, pedagang di Pasar Baru Porong, menjelaskan bahwa dirinya tidak ingin menarik laba terlalu banyak. Dia mematok harga cabai Rp 115 ribu per kilogram. ”Yang penting laris dan sering dibeli orang,” ujarnya. Sementara itu, harga cabai rawit di Pasar Larangan terus menanjak, dari Rp 128.400 menjadi Rp 131.700. Sementara itu, harga cabai di Pasar Krian berkisar Rp 120 ribu.



Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Pemkab Sidoarjo Handajani menjelaskan, ada beberapa cara yang direncanakan pemkab untuk menekan harga cabai rawit. Selain berencana menggelar operasi pasar, pihaknya terus menyuarakan pentingnya menciptakan kawasan rumah pangan lestari (KRPL) kepada masyarakat.



KRPL merupakan pemanfaatan ruang kosong dalam suatu petak rumah untuk ditanami beberapa komoditas. Salah satunya adalah cabai rawit. Dengan demikian, meroketnya harga cabai dapat teratasi. Kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. ”KRPL bisa menjadi solusi melonjaknya harga cabai,” paparnya.



Sejauh ini, sebagian kebutuhan cabai Sidoarjo harus dicukupi dengan pasokan dari luar daerah. Petani Sidoarjo lebih banyak menanam padi ketimbang cabai. ”Karena itu, harganya sering berubah. Kalau masyarakat ikut memanfaatkan metode KRPL, kebutuhan cabai aman,” pungkasnya. (jos/c16/pri)












Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore