
Ali Munar, pedagang barang seken di Taras Batamkota menyusun sepatu-sepatu seken luar negeri, Sabtu (1/4).
JawaPos.com - Bagi sebagian orang barang bekas adalah benda yang sudah tidak layak pakai. Namun segelintir orang lainnya, barang bekas atau seken adalah barang berharga yang bisa menghasilkan pundi-pundi.
Mereka itu pedagang baju bekas di sejumlah kawasan Kota Batam. Seperti yang terdapat di Pasar Jodoh. Pasar ini memang terkenal sebagai tempat jual baju bekas.
Di sana terdapat ribuan baju-baju bekas tergantung di sejumlah lapak di sepanjang jalan Tos 3000 Jodoh, Lubukbaja. Di bawah tenda yang umumnya berwarna biru, sebagian baju berserakan dan tertumpuk. Sebagian lagi disusun rapi menggunakan hanger.
Saat Batam Pos (Jawa Pos Group) menyambangi pasar tersebut, akhir pekan lalu, sejumlah pedagang menjajakan barang dagangannya. Salah satunya Ardi.
Dia menuturkan, selama ini banyak orang yang menganggap baju bekas sebagai sampah. Padahal, baju-baju bekas yang dijual adalah barang impor dari Singapura, Cina, Korea, Taiwan, dan Hongkong.
Meski bekas, kata Ardi, kualitas barang-barang tersebut boleh diadu dengan yang baru. "Kebanyakan orang pakai baju bekas nggak mau. Katanya geli pakai baju bekas. Justru, kalau orang yang tahu barang bagus, bermerek, lebih milih yang begini," kata dia.
Ardi berpendapat, salah satu daya tarik pakaian bekas terletak pada kualitas yang baik dan harga yang murah. Kedua hal ini menyebabkan orang saban hari berbondong-bondong datang ke Pasar Jodoh. "Cuma, agak sepi kalau hari Senin, Selasa hingga Kamis," ucap pria kelahiran Medan ini.
Saban hari, akunya, dia berhasil meraup omzet hingga Rp 1 juta. "Kalau sepi banget Rp 300 ribu," kata dia.
Artinya, dalam satu bulan bisa mengantongi sekitar Rp 30 juta. Dia mengaku, pendapatan itu jauh melebihi penghasilan teman-temannya yang bekerja sebagai pegawai.
Pertama kali ia terjun ke bisnis pakaian bekas karena diajak keluarganya yang berjualan lebih dahulu. Ia mengaku stok baju bekas yang ia jual dibeli per bal dari gudang Pasar jodoh yang berasal dari kirimin kapal laut dari luar negeri.
"Baju tersebut hanya bisa diambil dengan hitungan per bal. Harga satu bal pakaian bervariasi tergantung dari isi pakaian tersebut," ungkapnya.
Selain pakaian layak pakai, kadang bal-bal pakaian ini juga berisi sampah atau pakaian-pakaian yang tidak dapat dijual lagi. "Kalau harganya saya tidak berani bilang," ucapnya.
Menurutnya tidak semua pakaian yang dijual adalah pakaian bekas pakai. Ada juga pakaian-pakaian cuci gudang. "Jika ingin membeli pakaian, harga yang ditawarkan mulai dari Rp 5 ribu. Selain itu, harga yang sudah dibanderol masih bisa ditawar hingga setengah harga," ucapnya.
Untuk mengetahuinya mudah, yaitu masih ada label merek di dalam pakaian tersebut. Ia menunjukkan satu contoh dress berwarna hitam yang masih terdapat label.
"Label pakaian itu tentu saja sudah lusuh, tapi itu menjadi penanda pakaian itu bukan bekas pakai. Dan penjual kadang menjualnya dengan harga yang lumayan tinggi," jelasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
