Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 November 2017 | 19.06 WIB

Ini Filosofi Tradisi Nginang di Gelaran Sekaten

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta GPH Dipo Kusumo (tengah) memberikan keterangan pers, Rabu (22/11) - Image

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta GPH Dipo Kusumo (tengah) memberikan keterangan pers, Rabu (22/11)

JawaPos.com - Setiap gelaran Sekaten ada satu tradisi yang tidak pernah terlewatkan. Tradisi tersebut adalah nginang, yakni mengunyah kinang yang terdiri dari beberapa unsur. Mulai dari sirih, gambir, injet, tembakau dan bunga kantil.


Tradisi nginang dilakukan beberapa saat setelah penabuhan dua gamelan Keraton Kasunanan Surakarta, yakni Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari, sebagai tanda dibukanya Sekaten.


Menurut Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta GPH Dipo Kusumo, kinang ini mempunyai filosofi. Adalah sebuah pengharapan agar bisa bertemu dengan Sekaten di tahun depan. “Dengan menginang ada doa agar bisa mengikuti Sekaten lagi tahu depan,” terang Gusti Dipo, Jumat (24/11).


Bagi yang percaya dengan mitos ini, akan melakukannya meskipun sensasi yang dirasakan tidak terlalu menyenangkan. Bahkan bagi yang tidak terbiasa bisa muntah. Karena rasa dan aroma yang dihadirkan oleh kinang memang tidak semua bisa menerimanya.


Meski begitu, tidak sedikit perempuan yang begitu antusias untuk bisa menikmati kinang. Mereka bahkan sudah lama mengantre di kompleks Masjid Agung hanya agar bisa merasakan kinang.


Salah satunya adalah Widarti,54. Dia bukan warga dari Solo, dan rela datang dari Klaten hanya untuk bisa menikmati kinang keraton. Baginya, ini menjadi bagian yang tidak pernah dilewatkannya sejak muda. “Sejak dulu saya memang sudah rutin ke sini, dan menginang sudah menjadi hal yang biasa,” ucapnya kepada JawaPos.com.


Bagi Widarti, kinang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Meskipun rasanya tidak enak atau bisa dikatakan pahit, tetapi Widarti tidak pernah meninggalkan kebiasaan ini. “Biar sehat, meskipun pahit tetap saya menyukainya,” katanya.


Sementara itu, GKR Wandansari menambahkan bahwa tradisi nginang punya kelebihan dari sisi kesehatan. “Menginang ini untuk menjaga kesehatan, khususnya kesehatan mulut, gigi dan juga kesehatan pencernaan. Karena di dalam siri itu terdapat antibiotiknya,” terang perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng itu.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore