Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Oktober 2017 | 14.33 WIB

Situs Dayak Kuno Ditemukan, Katanya Bisa Bangkitkan Roh Nenek Moyang

Libertus Ketua DAD Kecamatan Sajingan Besar (baju putih topi coklat) bersama tim FRKP saat meninjau lokasi situs sejarah Dayak Selako berupa Parauman atau Bahaum di Dusun Batu Itam Desa Sanatab, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas. - Image

Libertus Ketua DAD Kecamatan Sajingan Besar (baju putih topi coklat) bersama tim FRKP saat meninjau lokasi situs sejarah Dayak Selako berupa Parauman atau Bahaum di Dusun Batu Itam Desa Sanatab, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas.

JawaPos.com - Kekayaan budaya Dayak bertambah. Itu setelah ditemukannya situs sejarah Dayak Selako berupa Parauman atau Bahaum. Lokasinya di Dusun Batu Itam, Desa Sanatab, Kecamatan Sajingan Besar, dekat Border Aruk Sajingan, Kabupaten Sambas, Kalbar.


Parauman atau Bahaum merupakan tempat pertemuan pengurus adat untuk menentukan hukum adat, budaya, rukun adat, dan kerukunan masyarakat adat.


Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Selasa (17/10), situs ini ditemukan pada 10 Juli 2017 oleh pengurus dewan adat dan tim ketimanggongan Dewan Adat Dayak (DAD) Sajingan Besar. Situs ini merupakan warisan budaya yang diyakini sudah ada sejak tahun 1419.


"Hal ini dapat dibuktikan dengan Pantak Pabuisan yang ada tertulis PARAUMAN 1419 411. Juga terdapat Pantak Batu serta sebuah batu besar yang datar tempat pertemuan para tokoh adat pada masa itu," ujar Pengasuh Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Bruder Stephanus Paiman OFM Cap usai meninjau lokasi situs sejarah tersebut bersama tim dan Ketua DAD Kecamatan Sajingan Besar, Libertus.


Atas penemuan tersebut, para pemangku adat di Sajingan Besar sepakat untuk melestarikan lokasi tersebut karena diyakini di tempat ini dapat membangkitkan kembali roh-roh nenek moyang mereka.


Tak hanya itu, keberadaan Parauman atau Bahaum ini turut dianggap berperan dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Karena ini pula tokoh-tokoh Dayak di Sajingan Besar berkumpul--pada saat konfrontasi dengan Malaysia--membuat ritual dan membantu TNI melawan tentara Malaysia.


Hal ini, kata Bruder Stephanus, diakui dengan adanya pengakuan oleh negara terhadap delapan orang sebagai veteran TNKU (Tentara Nasional Kalimantan Utara).


“Penangkapan tokoh PGRS Paraku di Terentang, ada kaitannya dengan permohonan Pangdam XII Tpr Brigjen Pangabean (saat itu Gubernur Kalbar-nya Sumadi) minta petunjuk ritual adat di tempat ini," ujarnya.


Oleh sebab itu, masyarakat Sajingan Besar pun bertekad untuk memelihara tempat ini sebagai situs sejarah sekaligus tempat untuk memanggil atau membangkitkan roh-roh nenek moyang Dayak di Sajingan Besar.


"Saya sangat-sangat setuju tempat ini harus tetap dipelihara karena ada nilai sejarahnya dengan bukti-bukti situs yang ada. Di beberapa daerah Dayak di Kalbar, tempat seperti ini sudah langka, mungkin karena perluasan perkebunan sawit dan sebagainya,” katanya.


Oleh karena itu, Bruder Stephanus mengajak generasi muda Dayak untuk melestarikan, memelihara tempat seperti ini sebagai warisan berharga dari nenek moyang.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore