
Aliansi Masyarakat Kota Agung Tolak Radikalisme dan Terorisme (MKTRT) adakan jumpa pers terkait kematian terduga teroris Muhammad Jefri Senin (19/2).
JawaPos.com — Pihak keluarga menerima kematian Muhammad Jefri (MJ), 32, yang meninggal usai ditangkap tim Detasemen Khusus Densus 88, beberapa waktu lalu.
Bahkan, mereka menolak dilakukannya otopsi ulang terhadap jenazah pria terduga teroris tersebut. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Mukri, 60, ayah almarhum MJ.
“Dengan kerendahan hati, kami mohon untuk berhenti melakukan berbagai upaya atau melemparkan fitnah yang tidak pada tempatnya, untuk melakukan otopsi ulang dengan membongkar makam dan sebagainya. Karena sebagai orang tua kami sudah mengikhlaskan,” jelas Mukri, dalam jumpa pers dengan awak media, Senin (19/2).
Mukri mengatakan, mereka menolak siapa pun yang mencoba untuk mengungkit kembali kematian anaknya tersebut. Karena menurutnya, upaya tersebut tidak ada manfaat bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
Ia melanjutkan, pihak keluarga mengaku percaya sepenuhnya penjelasan dokter yang sudah melakukan otopsi dan pemeriksaan langsung terhadap jenazah. Bahwa kematian anaknya disebabkan karena serangan jantung dan bukan kekerasan fisik.
Kemudian ia juga menjelaskan bahwa, berdasarkan keterangan dari Polisi, anaknya tersebut terlibat dalam aksi radikal dan terorisme. Di antaranya adalah aksi bom di Jalan MH Thamrin pada 2016, bom di Tolitoli tahun 2017, dan terakhir pelemparan bom Polsek Bangkala Makasar malam pergantian tahun 2017.
Dalam kesempatan itu, Mukri juga meminta maaf kepada seluruh masyarakat Kota Agung. "Saya mengaku merasa gagal dalam mendidik dan mengawasi aktivitas anak saya. Sehingga anak saya dapat terekrut dalam kelompok radikal dan jaringan terorisme," jelas Mukri.
Sementara itu, juru bicara masyarakat Kota Agung yang menamakan diri sebagai Aliansi Masyarakat Kota Agung Tolak Radikalisme dan Terorisme (MKTRT) Suryo Mulyono mengatakan bahwa Aliansi MKTRT dengan tegas menolak keras setiap paham radikalisme dan terorisme. “Hal ini menggangu rasa aman, baik masyarakat Indonesia pada umumnya maupun masyarakat Kota Agung pada khususnya,” tegasnya.
Aliansi Masyarakat Kota Agung Tolak Radikalisme dan Terorisme (MKTRT) sendiri terdiri atas MUI Kota Agung, Pauyuban Paku Banten Kota Agung, dan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Kota Agung. Selain itu, ada juga Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Kota Agung, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat yang tergabung dalam kelompok tersebut.
Sebelumnya diberitakan, terduga teroris berinisial MJ asal Kota Agung Tanggamus meninggal pada Sabtu (10/2). MJ meninggal setelah sebelumnya ditangkap oleh Densus 88 Anti Teror Mabes Polri pada Rabu (7/2) di Jalan Sudirman, Desa Cipancuh, Indramayu, Jawa Barat. Kematian MJ ini menjadi teka-teki banyak kalangan lantaran penguburannya dilakukan secara terburu-buru. Pihak keluarga dan masyarakat sekitar pun bungkam.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
