Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Februari 2018 | 02.29 WIB

Keluarga MJ Terduga Teroris Asal Tanggamus Tolak Otopsi Ulang

Aliansi Masyarakat Kota Agung Tolak Radikalisme dan Terorisme (MKTRT) adakan jumpa pers terkait kematian terduga teroris Muhammad Jefri Senin (19/2). - Image

Aliansi Masyarakat Kota Agung Tolak Radikalisme dan Terorisme (MKTRT) adakan jumpa pers terkait kematian terduga teroris Muhammad Jefri Senin (19/2).

JawaPos.com — Pihak keluarga menerima kematian Muhammad Jefri (MJ), 32, yang meninggal usai ditangkap tim Detasemen Khusus Densus 88, beberapa waktu lalu.


Bahkan, mereka menolak dilakukannya otopsi ulang terhadap jenazah pria terduga teroris tersebut. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Mukri, 60, ayah almarhum MJ.


“Dengan kerendahan hati, kami mohon untuk berhenti melakukan berbagai upaya atau melemparkan fitnah yang tidak pada tempatnya, untuk melakukan otopsi ulang dengan membongkar makam dan sebagainya. Karena sebagai orang tua kami sudah mengikhlaskan,” jelas Mukri, dalam jumpa pers dengan awak media, Senin (19/2).


Mukri mengatakan, mereka menolak siapa pun yang mencoba untuk mengungkit kembali kematian anaknya tersebut. Karena menurutnya, upaya tersebut tidak ada manfaat bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.


Ia melanjutkan, pihak keluarga mengaku percaya sepenuhnya penjelasan dokter yang sudah melakukan otopsi dan pemeriksaan langsung terhadap jenazah. Bahwa kematian anaknya disebabkan karena serangan jantung dan bukan kekerasan fisik.


Kemudian ia juga menjelaskan bahwa, berdasarkan keterangan dari Polisi, anaknya tersebut terlibat dalam aksi radikal dan terorisme. Di antaranya adalah aksi bom di Jalan MH Thamrin pada 2016, bom di Tolitoli tahun 2017, dan terakhir pelemparan bom Polsek Bangkala Makasar malam pergantian tahun 2017.


Dalam kesempatan itu, Mukri juga meminta maaf kepada seluruh masyarakat Kota Agung. "Saya mengaku merasa gagal dalam mendidik dan mengawasi aktivitas anak saya. Sehingga anak saya dapat terekrut dalam kelompok radikal dan jaringan terorisme," jelas Mukri.


Sementara itu, juru bicara masyarakat Kota Agung yang menamakan diri sebagai Aliansi Masyarakat Kota Agung Tolak Radikalisme dan Terorisme (MKTRT) Suryo Mulyono mengatakan bahwa Aliansi MKTRT dengan tegas menolak keras setiap paham radikalisme dan terorisme. “Hal ini menggangu rasa aman, baik masyarakat Indonesia pada umumnya maupun masyarakat Kota Agung pada khususnya,” tegasnya.


Aliansi Masyarakat Kota Agung Tolak Radikalisme dan Terorisme (MKTRT) sendiri terdiri atas MUI Kota Agung, Pauyuban Paku Banten Kota Agung, dan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Kota Agung. Selain itu, ada juga Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Kota Agung, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat yang tergabung dalam kelompok tersebut.


Sebelumnya diberitakan, terduga teroris berinisial MJ asal Kota Agung Tanggamus meninggal pada Sabtu (10/2). MJ meninggal setelah sebelumnya ditangkap oleh Densus 88 Anti Teror Mabes Polri pada Rabu (7/2) di Jalan Sudirman, Desa Cipancuh, Indramayu, Jawa Barat. Kematian MJ ini menjadi teka-teki banyak kalangan lantaran penguburannya dilakukan secara terburu-buru. Pihak keluarga dan masyarakat sekitar pun bungkam.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore