Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Mei 2026 | 19.22 WIB

Gangguan Cuaca Picu Blackout Sumatera, PLN Ungkap Awal Mula Listrik Padam Massal

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo saat konferensi pers di Kantor Pusat PLN, Sabtu (23/5) mengatakan fokus utama PLN pascagangguan adalah mengoperasikan kembali pembangkit-pembangkit yang sebelumnya terdampak untuk kemudian diselaraskan kembali dengan sistem transmisi yang telah siap (Dok. PLN) - Image

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo saat konferensi pers di Kantor Pusat PLN, Sabtu (23/5) mengatakan fokus utama PLN pascagangguan adalah mengoperasikan kembali pembangkit-pembangkit yang sebelumnya terdampak untuk kemudian diselaraskan kembali dengan sistem transmisi yang telah siap (Dok. PLN)

JawaPos.com – PT PLN (Persero) mengungkap indikasi awal penyebab terjadinya pemadaman listrik massal yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada Jumat malam (22/5). Gangguan cuaca disebut menjadi pemicu awal terganggunya sistem transmisi kelistrikan di Pulau Sumatera.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, gangguan bermula dari ruas transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Provinsi Jambi. Jalur tersebut dilaporkan keluar dari sistem kelistrikan Sumatera setelah terdampak cuaca buruk.

“Ini sebagai indikasi awal, ada ruas transmisi 275KV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi yang indikasi awalnya karena gangguan cuaca sehingga terjadi gangguan pada sistem transmisi tersebut dan sistem transmisi tersebut keluar dari sistem kelistrikan Sumatera,” ujar Darmawan dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5).

Menurut dia, terganggunya jalur transmisi utama tersebut langsung memicu guncangan besar terhadap sistem pembangkit listrik PLN di berbagai wilayah Sumatera. Kondisi itu membuat keseimbangan pasokan dan beban listrik terganggu secara drastis.

Di sejumlah daerah, beban listrik mendadak hilang sehingga terjadi kelebihan pasokan listrik atau oversupply. Akibatnya frekuensi dan tegangan listrik meningkat tajam hingga sistem pengaman otomatis bekerja dan memutus pembangkit dari jaringan.

“Dampaknya adalah adanya shock terhadap pembangkit-pembangkit kami. Ada sebagian wilayah di mana karena bebannya itu hilang maka terjadi oversupply,” jelas Darmawan.

“Frekuensi sistem kelistrikan di daerah tersebut naik dan tegangannya juga naik sehingga pembangkitnya langsung secara otomatis keluar dari sistem atau kalau dalam istilah publik adalah pembangkitnya secara otomatis padam,” sambungnya.

Sementara di wilayah lain, PLN justru mengalami kekurangan daya karena sejumlah pembangkit terlepas dari sistem. Kondisi itu menyebabkan frekuensi dan tegangan turun sehingga pembangkit lain ikut terdampak dan akhirnya padam secara otomatis.

“Tetapi ada juga daerah-daerah yang mengalami defisit karena pembangkitnya menjadi berkurang. Maka frekuensinya turun, voltasinya turun sehingga ini menjadi beban bagi pembangkit kami dan secara otomatis maka pembangkit di daerah tersebut juga keluar,” jelas Darmawan.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore