Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Maret 2026 | 21.40 WIB

BPKN Tegaskan Keamanan Air Minum Ditentukan Proses Sanitasi, Bukan Sekadar Usia Galon

Pemeriksaan mutu galon polikarbonat untuk air siap minum. (ANTARA)

JawaPos.com - Perdebatan publik mengenai keamanan galon guna ulang kembali mencuat, terutama terkait anggapan bahwa usia galon menjadi faktor utama yang menentukan keamanan air minum. Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) menegaskan bahwa kekhawatiran semacam itu terlalu sederhana.

Fokus utama perlindungan konsumen haruslah pada proses pencucian, sanitasi, dan pengawasan mutu yang diterapkan secara konsisten, bukan semata-mata angka usia galon. Kepala BPKN, Muhammad Mufti Mubarok mengatakan bahwa keselamatan air minum yang dikonsumsi masyarakat bergantung pada standar operasional pencucian dan sterilisasi yang ketat.

Dia mengatakan, perlindungan konsumen harus berbasis pada standar keamanan yang terukur dan diawasi. Dalam konteks galon guna ulang, yang menentukan keamanan adalah bagaimana proses pencucian, sterilisasi, dan quality control dilakukan, bukan semata-mata angka usia pada kemasan.

"Apapun galonnya, mau sekali pakai atau guna ulang, pokoknya selama dia cara pembersihannya tidak benar ini menimbulkan bahaya. Jadi proses pembersihan ini yang masalah, kalau umur si harusnya nggak masalah menurut saya," katanya.

Pandangan ini diperkuat oleh Guru Besar bidang Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Ahmad Sulaeman. Dia menyatakan bahwa galon guna ulang tetap aman digunakan meski sudah bertahun-tahun selama dirawat dan disimpan sesuai ketentuan.

"Sesungguhnya baik baru atau lama sama saja, potensi migrasi itu selalu ada. Bukan masalah lama atau baru, tetapi seberapa terpapar dengan faktor-faktor lingkungan," kata Ahmad Sulaeman.

Prof. Ahmad menjelaskan bahwa migrasi bahan kimia seperti Bisphenol A (BPA) dari kemasan ke dalam air hanya terjadi dalam kondisi ekstrem tertentu, seperti jika galon terpapar suhu tinggi atau lingkungan ber-pH tidak sesuai. Faktor-faktor seperti suhu dan praktik penyimpanan yang benar jauh lebih menentukan keamanan air daripada angka usia galon itu sendiri.

"Intinya bagaimana publik merawat galon, bukan dari berapa kali dia diisi dan berapa lama masa pakainya," katanya.

Dalam industri air minum dalam kemasan (AMDK), setiap galon yang kembali ke pabrik wajib melalui pemeriksaan visual ketat, pencucian bertekanan tinggi, sanitasi, dan sterilisasi sebelum diisi ulang. Galon yang mengalami kerusakan fisik akan dikeluarkan dari siklus distribusi. Ini menunjukkan bahwa sistem kontrol mutu adalah penentu utama keamanan produk, bukan usia kemasan.

BPKN dan para ahli sepakat bahwa narasi publik sebaiknya bergeser dari kekhawatiran berbasis asumsi menuju pemahaman berbasis standar dan proses yang transparan. Edukasi mengenai perawatan dan penyimpanan air minum di tingkat rumah tangga juga menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas air yang dikonsumsi.

Dengan demikian, keamanan air minum adalah hasil dari rantai sistem yang terkontrol — dari sumber, proses pengolahan, sanitasi kemasan, hingga distribusi. Selama standar tersebut dijalankan dan diawasi, usia galon bukanlah faktor utama dalam menentukan aman atau tidaknya air yang dikonsumsi masyarakat.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore