Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Juli 2026 | 12.29 WIB

Pakar Kimia: Tidak Ada Bukti Klinis BPA pada galon PC Sebabkan Gangguan Hormon, Reproduksi, dan Kanker

Ilustrasi galon guna ulang. (Istimewa) - Image

Ilustrasi galon guna ulang. (Istimewa)

JawaPos.com - Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Johnner Sitompul mengingatkan, hingga kini belum ada bukti klinis yang secara langsung mengaitkan paparan Bisphenol A (BPA) dari galon PC dengan gangguan hormon, reproduksi, dan kanker pada manusia. Terlebih lagi BPOM belum pernah melakukan kajian terkait hal tersebut. 

Masyarakat perlu kritis membedakan BPA sebagai senyawa yang berdiri sendiri dengan BPA sebagai unsur pembentuk kemasan. BPA sebagai bahan pencampur plastik polikarbonat sangat sulit terlepas dari ikatan plastiknya.

Jadi menurut dia, kecil kemungkinan migrasi, apalagi dalam suhu normal. PC adalah bahan kemasan yang tahan panas, karena itu digunakan sebagai kemasan guna ulang yang lebih ramah lingkungan.

"Riset itu (bahaya galon PC) belum terlihat, yang banyak itu risiko BPA terhadap bayi, terhadap kelenjar-kelenjar atau hormon terhadap obesitas BPA-nya ya, bukan polikarbonatnya," kata Johnner Sitompul di Jakarta.

Guru Besar Jebolan University of Wales ini menjelaskan, BPA merupakan zat pembentuk yang berubah bentuk saat menjadi polikarbonat. Belum ada penelitian yang membuktikan polikarbonat dalam bentuk galon yang dapat terurai kembali menjadi BPA saat bersentuhan dengan air.

Dia mengatakan, penelitian yang selama ini banyak berkembang justru masih berfokus pada BPA sebagai senyawa tersendiri, bukan pada galon polikarbonat yang digunakan sebagai wadah air minum. Padahal, sambung dia, senyawa pembentuk (monomer) yang tergabung dalam polikarbonat berubah dan memiliki karakteristik yang jauh lebih stabil.

Johnner menjelaskan, hal ini lantaran materi polikarbonat dibentuk melalui reaksi polimerisasi sehingga memiliki ikatan kuat dan tidak mudah luruh atau rusak apabila digunakan sebagai kemasan pangan. Berbeda apabila materi tertentu yang hanya terbentuk melalui reaksi fisik sehingga memiliki ikatan yang lemah.

"Kalau sudah reaksi dia kan membentuk seperti senyawa baru yang kuat, kayak polimer (hasil bentukan monomer) itu kuat. Perdebatan selama ini kerap mencampuradukkan antara BPA sebagai bahan penyusun (monomer) dengan polikarbonat sebagai produk akhir yang telah mengalami reaksi kimia," terang Johnner Sitompul.

Dia berpendapat, diperlukan penelitian yang secara khusus yang menguji apakah BPA dalam polikarbonat dapat bermigrasi ke dalam air dalam kondisi penggunaan nyata. Hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi rujukan ilmiah yang objektif.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore