
Menembus gelapnya malam, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara memberangkatkan sejumlah mobil tangki pengangkut LPG atau skid tank menuju Kota Sibolga yang berjarak 500 kilometer.
JawaPos.com - Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Hidayah Banyuwangi, Ali Makki Zaini mengajak semua pihak untuk melakukan introspeksi diri setelah banyaknya bencana alam yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Langkah ini penting sebagai ikhtiar moral dan sosial untuk menghentikan kerusakan lingkungan.
Makki pun menyerukan taubat ekologi. Bencana yang terjadi di wilayah Sumatera hingga Aceh menunjukan bumi telah mengalami tekanan ekologis yang tak lagi dapat diabaikan.
“Taubat itu syaratnya dua, nadam (penyesalan) dan azam (tekad untuk tidak mengulangi). Itu berlaku juga untuk urusan lingkungan. Siapa yang perlu taubat? Semua ya, semua. Tapi para pemangku kebijakan harus menjadi yang pertama menyesali dan memperbaiki arah,” ujar Makki kepada wartawan, Rabu (3/12).
Makki mengatakan, pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan secara bijak. Jika dilakukan secara berlebihan maka akan memberikan dampak kerusakan alam. Ujungnya akan bermuara pada bencana alam.
Oleh karena itu, aktivis lingkungan yang selama ini vokal terhadap kondisi lingkungan perlu mendapat dukungan. Mereka memberikan kontrol sosial agar terjadi keseimbangan alam.
Di sisi lain, bagi kalangan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) menjaga lingkungan adalah hal wajib. Namun, ia mengakui implementasi nyata sangat ditentukan oleh ketegasan pemimpin organisasi dan lembaga keagamaan.
“Ini bukan barang baru. Tinggal bagaimana masing-masing memerankan fungsi. Lembaga keagamaan memang harus lebih tegas,” ujar Pengampu Rutinan Sinahu Bareng Banyuwangi itu.
Ia mendorong kolaborasi lebih erat antara pesantren, ormas keagamaan, pemerintah, dan aktivis lingkungan untuk bersama-sama mengusung taubat ekologi sebagai gerakan bersama. Semua agama mengajarkan bahwa sikap berlebihan terhadap alam pasti membawa mudarat.
Selain itu, penting diberikannya pendidikan lingkungan sejak dini, khususnya di pesantren dan sekolah-sekolah Ma’arif. Menurutnya, pendidikan ekologis bisa diintegrasikan sebagai muatan lokal bila belum masuk dalam kurikulum nasional.
“Harus dimulai dari pesantrennya bagaimana memelihara air, hutan, kebersihan lingkungan. Jalurnya sudah banyak, tinggal mempraktikkan. Ini keteledoran kita bersama,” tandasnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
