
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan (kanan). (Pemkot Bandung/Antara)
JawaPos.com - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan angkat bicara soal para siswa SDN 117 Batununggal yang mengemper di jalanan karena menanti kedatangannya hingga lima jam.
Ia menegaskan tak pernah meminta para siswa menyambut kedatangannya dalam agenda kunjungan daerah. "Kami pun tidak pernah memerintahkan pengerahan," ujarnya kepada wartawan, dikutip Kamis (27/11).
Ia juga mengaku kaget dengan pengerahan para siswa SD Batununggal untuk menyambutnya. dan akan menyelidiki siapa yang memerintahkan hal itu. "Saya akan menyelidiki dulu bagaimana miskomunikasi ini bisa terjadi," tegasnya.
Politikus Partai NasDem ini juga menerangkan bahwa sebenarnya tak ada agenda yang terjadwal untuk mengunjungi SDN 117 Batununggal pada hari tersebut.
"Itu tuh miskomunikasi karena dalam agenda saya sebenarnya nggak ada kunjungan ke SD. Kunjungan ke sekolah itu tidak pernah masuk ke dalam kunjungan itu," tuturnya.
"Saya juga kaget ternyata anak sekolah disiapkan untuk menyambut saya. Tapi nanti kita coba selesaikan miskomunikasinya," pungkas Farhan.
Sebelumnya, Viral di media sosial para siswa SDN 117 Batununggal Bandung mengemper di jalanan usai menunggu Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang dinarasikan batal mengunjungi sekolah tersebut. Para siswa menunggu hingga lima jam sejak pukul 09.00-13.00 WIB.
Dalam video yang beredar, para siswa SD itu mengemper di pinggir jalan karena lelah berdiri. Sementara guru-guru juga tampak hilir mudik di jalanan tersebut.
Menurut keterangan unggahan di media sosial, Farhan disebut berencana mengunjungi SD Batununggal untuk meninjau program urban farming yang ada di depan sekolah tersebut. Hanya saja, yang ditunggu pun tak kunjung tiba.
Pengerahan anak sekolah untuk menyambut kedatangan para pejabat biasa dilakukan sejak lama, termasuk masif dilakukan di zaman kepemimpinan Presiden ke-2 RI Soeharto.
Belakangan, banyak kritik atas kebiasaan ini. Banyak orang beranggapan bahwa anak-anak tak seharusnya dikerahkan untuk menyambut pejabat hingga meninggalkan proses belajarnya.
