Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Oktober 2025 | 21.28 WIB

Viral Dangdutan di Peresmian Masjid Temanggung, PCNU Heran: Sakral Kok Dicampur Maksiat

Acara dangdutan di acara peresmian Masjid Darul Falah, Dusun Jambon, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, yang mendadak viral di media sosial. (Istimewa)

JawaPos.com - Sebuah video berdurasi satu menit lebih dari akun Instagram @kejadiantemanggung mendadak viral di media sosial. Tayangan itu memperlihatkan suasana peresmian Masjid Darul Falah di Dusun Jambon, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, yang justru diwarnai pentas dangdut dengan biduan berpakaian seksi.

Publik pun geger. Banyak warganet menilai kegiatan hiburan itu tak pantas digelar dalam momentum keagamaan yang seharusnya sakral.

Menanggapi polemik tersebut, Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Temanggung, M Furqon Masyhuri, menyatakan pihaknya akan turun langsung ke lapangan untuk memverifikasi kebenaran video yang beredar.

“Kami akan cek ke lapangan, apakah betul itu terjadi. Ini bagian dari upaya kami untuk memahami dan menasihati masyarakat agar tidak mencampurkan hal-hal yang bersifat maksiat dengan sesuatu yang sakral seperti peresmian masjid,” ujar Furqon mengutip Radar Magelang (Grup JawaPos).

Furqon menyayangkan bila benar kegiatan hiburan itu terjadi. Ia menilai, peresmian masjid seharusnya dijaga kesuciannya, bukan dicampur dengan hiburan yang bisa menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Peresmian masjid itu sesuatu yang sakral, tentu tidak pantas jika ada kegiatan dangdutan. Ini sudah menjadi perhatian banyak pihak, bahkan beberapa kiai juga menghubungi saya karena video itu viral di berbagai grup dan media sosial,” katanya.

PCNU Temanggung, lanjutnya, akan segera berkoordinasi dengan tokoh agama dan masyarakat setempat untuk memberikan nasihat sekaligus memastikan peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

“Kami malu ini sudah viral ke mana-mana. Kita merasa kecolongan. Setelah dicek nanti, kami akan sampaikan pemahaman agar masyarakat lebih hati-hati dan tidak mengulangi kegiatan seperti itu lagi,” tegasnya.

Furqon juga mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menghakimi atau menyebarkan potongan video tanpa konteks lengkap. Ia menekankan pentingnya sikap tabayyun (klarifikasi) sebelum berkomentar di ruang digital.

“Kami akan tetap menindaklanjuti untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan kegiatan keagamaan. Tapi masyarakat juga perlu lebih bijak bermedia sosial,” tutupnya.

Meski sudah ditanggapi oleh tokoh keagamaan setempat, kasus viral ini kembali membuka perdebatan klasik antara tradisi lokal, hiburan rakyat, dan nilai kesakralan tempat ibadah. 

Di tengah era digital, tabayyun dan literasi digital keagamaan menjadi kunci agar masyarakat tak mudah terseret kontroversi tanpa memahami konteks sebenarnya.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore