
Ilustrasi saluran air yang tercemar limbah tahu dan penuh sampah. (Anggi Fridianto/Radar Jombang)
JawaPos.com-Kabupaten Jombang dikenal sebagai salah satu sentra produksi tahu terbesar di Indonesia. Setiap hari, puluhan pabrik tahu di wilayah Kecamatan Jogoroto mengolah sekitar 84 ton kedelai menjadi pangan populer itu.
Namun di balik geliat ekonominya, industri tahu Jombang menyimpan persoalan lama. Pelik. Masalah tersebut yakni limbah cair dalam jumlah besar yang mencemari sungai dan lahan pertanian.
Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat, sedikitnya 88 pabrik tahu di kawasan ini belum memiliki sistem pengolahan limbah memadai. Akibatnya, sekitar 1,26 juta liter limbah cair dengan kadar pencemar tinggi mengalir ke sungai setiap hari.
Kondisi ini sudah lama dikeluhkan masyarakat karena berdampak pada kualitas air, kesehatan, hingga konservasi tanah. Untuk menjawab persoalan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Pemerintah Kabupaten Jombang, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) berkolaborasi membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal.
Proyek yang resmi dimulai Selasa (16/9) itu diharapkan mampu menekan kadar pencemar limbah tahu hingga sesuai standar lingkungan.
“Sentra tahu Jombang dipilih karena laporan mengenai pencemaran air Sungai Brantas sudah lama mendesak. Kami mencari solusi agar industri tetap berjalan, tapi lingkungan juga terlindungi,” ujar Tulus Laksono, Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLH.
Sebab, industri tahu di Jombang bukan sekadar urusan pangan. Ribuan tenaga kerja menggantungkan hidup dari usaha ini, dengan penghasilan yang rata-rata di atas UMR.
Namun, ketiadaan pengelolaan limbah menimbulkan dilema antara keberlanjutan ekonomi dan kesehatan lingkungan.
Bupati Jombang Warsubi menyebut keberadaan IPAL Komunal menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan.
“Industri tahu adalah denyut ekonomi daerah. Tapi tanpa solusi limbah, potensi konflik sosial dan kerusakan lingkungan akan terus membesar,” kata Warsubi.
Selain IPAL, program terkait juga mencakup kolam fitoremediasi untuk pemanfaatan air olahan sebagai irigasi pertanian, pengolahan eceng gondok menjadi pupuk, hingga peralihan energi dari kayu bakar ke gas bumi.
Selain aspek lingkungan, ada juga kegiatan sosial dan ekonomi. Mulai dari pembentukan koperasi, pemberdayaan perempuan, hingga pelatihan UMKM dalam branding, kemasan produk, dan sertifikasi halal.
Pendekatan ini menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) untuk memastikan setiap tahap produksi dan pengelolaan limbah diperhitungkan secara berkelanjutan.
Direktur SDM dan Penunjang Bisnis PGN Rachmat Hutama menegaskan, program ini bukan sekadar proyek teknis.
“Kami ingin persoalan limbah selesai, tapi juga mendorong ekonomi warga lebih berdaya dan industri tahu Jombang bisa bersaing dengan produk yang higienis serta ramah lingkungan,” ungkap Rachmat Hutama.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
