
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq rapat bersama Gubernur Bali Wayan Koster di Denpasar (13/9). (Humas Kemen-LH)
JawaPos.com - Banjir besar yang melanda Denpasar 10 September lalu, tidak semata karena hujan ekstrem. Tetapi juga dampak dari krisis daerah aliran sungai (DAS) Ayung. Saat ini tutupan hutan di DAS Ayung tinggal 3 persen.
Tutupan hutan pada DAS sangat penting. Yaitu untuk serapan air hujan. Sehingga air ujan tidak sepenuhnya meluber atau mengalir ke hilir. Kasus serupa terjadi di Bekasi beberapa bulan lalu. Hujan lebat ditambah rusaknya ekosistem DAS Bekasi di hulunya, memicu banjir besar.
Setelah terjadi banjir besar di Denpasar, Menteri Lingkungan Hidup (Men-LH) Hanif Faisol Nurofiq menggelar rapat bersama Gubernur Bali Wayan Koster (13/9). Data dari Kemen-LH menyebut, krisis tutupan hutan di DAS Ayung memperburuk kondisi saat terjadi banjir Denpasar.
Dari total 49.500 hektare luas kawasan, hanya sekitar 1.500 hektare atau 3 persen yang masih berhutan. "Padahal secara ekologis minimal dibutuhkan 30 persen agar ekosistem tetap berfungsi optimal," kata Hanif.
Dia menegaskan arah kebijakan nasional di sektor lingkungan hidup. Yaitu pengawasan ketat termasuk upaya untuk menghindari sejauh mungkin terjadinya konversi-konversi lahan yang tidak diperlukan. "Jadi kita mengharapkan tidak ada lagi konversi-konversi lahan untuk kegiatan terbangun seperti pembangunan villa, cottage dan lain sebagainya yang akan mengganggu serapan air," jelas Hanif.
Selain mencegah alih fungsi lahan, persoalan sampah juga menjadi sorotan serius di pulau Dewata. Hanif mengatakan persoalan sampah harus ditangani di sumbernya. Tidak boleh lagi hanya dipindah dari satu titik ke titik lain. Karena sudah memperparah bencana banjir, sampai dengan membawa korban jiwa.
Pemerintah pusat dan daerah berkomitmen memperkuat pengawasan lingkungan, rehabilitasi kawasan hulu sungai, evaluasi tata ruang, hingga penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. “Momentum ini harus menjadi pengingat bagaimana kita menjaga alam Bali agar tetap lestari dan tangguh menghadapi bencana,” pungkas Hanif.
Dalam rapat tersebut, dijelaskan bahwa curah hujan ekstrem pada 9 September mencapai 245,75 milimeter dalam sehari. Setara 121 juta meter kubik air di DAS Ayung.
Bencana banjir itu menelan 17 korban jiwa dengan lima orang lainnya masih hilang. Selain menghantam pemukiman dan infrastruktur, banjir diperparah oleh timbunan sampah yang menutup aliran sungai. “Ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman perubahan iklim bagi Bali,” tegas Wayan Koster.
Dia juga menekankan pentingnya investigasi dari hulu hingga hilir untuk mencegah banjir berulang. Penelusuran pertama dari Tukad Badung dari hulu sampai hilir. Untuk mengetahui apakah terjadi penggundulan hutan. Sehingga mengurangi serapan air sehingga pada saat hujan lebat potensi banjirnya menjadi sangat besar.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Jafar/Felisha dan Adnan/Indah Dicoret dari Kejuaraan Dunia, PBSI Buka Suara Soal Dugaan Match Fixing
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
