Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Juli 2025 | 18.05 WIB

Viral Kasus Bullying di SMPN 3 Doko Blitar, Korban dan Pelaku satu Dusun, Dispendik Turunkan Tim Investigasi

Ilustrasi bullying di sekolah. (Freepik).  - Image

Ilustrasi bullying di sekolah. (Freepik). 

JawaPos.com - Jauh dari ingar-bingar kota, SMPN 3 Doko yang berada di Desa Sumber Urip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur (Jatim) mendadak jadi sorotan publik.

Video bullying yang terjadi di lingkungan sekolah itu viral di media sosial hingga mengundang banyak reaksi publik. Hal itu mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar menurunkan tim investigasi. 

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Adi Andaka menyampaikan bahwa tim investigasi yang diturunkan ke SMPN 3 Doko terdiri atas sekretaris dinas dan kepala bidang SMP.

Langkah itu ditempuh untuk memastikan proses pembelajaran tetap aman dan tidak terjadi insiden lanjutan. Dia mengakui, sepanjang 2025 sudah terjadi 3 kasus bullying di Blitar. Namun hanya kasus di SMPN 3 Doko yang viral

”Anak didik adalah amanah bersama. Guru, orang tua, masyarakat harus bersinergi menjaga mereka agar tumbuh jadi generasi hebat, bukan generasi yang menyakiti,” ungkap Adi, sebagaimana dikutip dari Radar Blitar pada Rabu (23/7).

Menurut dia, kasus yang terjadi di SMPN 3 Doko sekaligus menegaskan bahwa perhatian terhadap pendidikan di daerah-daerah yang jauh dari kota juga harus diperkuat.

Para siswa butuh pendidikan karakter yang baik. Sehingga mereka belajar dan tumbuh sebagai generasi yang berprestasi. Bukan menjadi siswa yang melakukan kekerasan. 

Berdasar data, jumlah siswa di SMPN 3 Doko tidak banyak. Bahkan di kelas VII hanya ada 20 siswa. Mereka kini terbagi dalam 2 rombongan belajar (rombel) yang berbeda.

Idealnya, jumlah siswa yang sedikit membuat proses belajar mengajar semakin efektif. Bangunan hubungan sosial antar siswa dan pengajar juga bisa lebih dekat.

Namun, kasus bullying atau perundungan yang terjadi menunjukkan bahwa jumlah siswa yang sedikit tidak lantas membuat semua berjalan baik-baik saja.

Apalagi bila ditarik ke belakang, dua siswa yang terlibat sebagai pelaku dan korban merupakan teman sebaya. Mereka tinggal di dusun yang sama dan tumbuh bersama sejak anak-anak.

”Anak-anak itu semua masih kelas 7, dan berasal dari satu dusun. Mungkin karena terlalu dekat dan belum bisa mengelola perbedaan, terjadilah insiden itu,” kata Adi. 

Perundungan yang viral tersebut terjadi pada Jumat pekan lalu (18/7). Persisnya setelah para siswa selesai mengikuti kegiatan kerja bakti.

Korban dan pelaku terlibat saling olok hingga salah seorang siswa berinisiatif mengajak ke salah satu sudut ruangan. Perundungan pun terjadi. 

”Ini bukan hanya soal satu sekolah. Ini gambaran bagaimana kita harus memperkuat pendidikan karakter, terutama di sekolah-sekolah kecil seperti SMPN 3 Doko,” ungkap Adi.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore