Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Juli 2025 | 15.54 WIB

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Tegaskan Larangan Study Tour untuk Pelajar, Sopir dan Pengusaha Bus Protes

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com–Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Barat (Jabar) terkait pelarangan kegiatan study tour bagi pelajar menuai protes dari para sopir pengusaha bus, dan penyelenggara travel pariwisata. Para pelaku jasa pariwisata merasa dirugikan atas kebijakan yang diterbitkan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.

Mereka menggelar aksi demonstrasi di Gedung Sate, Bandung, pada Senin (21/7). Aksi demonstrasi itu dikabarkan turut memblokade jalan di sekitar Jembatan Pasopati.

Merespons itu, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan bukan pelarangan terhadap kegiatan pariwisata secara umum, melainkan terhadap kegiatan study tour yang dilakukan bagi para pelajar sekolah.

"Yang protes itu larangan pariwisata. SK saya adalah SK study tour, yang dilarang itu adalah study tour. Yang kemudian dengan demonstrasi itu menunjukkan semakin jelas bahwa kegiatan study tour itu sebenarnya kegiatan piknik, kegiatan rekreasi," kata Dedi Mulyadi dalam unggahan pada akun media sosial Instagram, Selasa (22/7).

Menurut dia, aksi demonstrasi tersebut justru memperjelas bahwa kegiatan study tour yang diklaim bernuansa edukatif oleh sebagian pihak, pada kenyataannya lebih bersifat hiburan pariwisata semata. 

"Bisa dibuktikan yang berdemonstrasi adalah jasa kepariwisataan, dan kemudian yang demonstrasi juga ternyata mendapat dukungan dari Asosiasi Jeep di daerah Jogjakarta, terutama Jeep yang melakukan pengangkutan di Gunung Merapi," tegas Dedi Mulyadi.

Dia juga menegaskan, penolakan terhadap kebijakan ini tidak hanya datang dari Jawa Barat, tetapi juga dari pelaku usaha wisata di daerah lain. Namun demikian, dia menyatakan tak akan mundur dari kebijakan tersebut.

"Insya Allah Gubernur Jawa Barat akan tetap berkomitmen menjaga ketenangan orang tua siswa agar tidak terlalu banyak pengeluaran biaya di luar kebutuhan pendidikan," tegas Dedi.

Menurut dia, banyak orang tua yang merasa terbebani secara ekonomi setiap kali ada agenda study tour. Kebijakan itu semata hanya menjaga kualitas dan keberlanjutan pendidikan di Jawa Barat dengan memangkas beban biaya yang tidak berkaitan langsung dengan karakter dan nilai pendidikan. 

“Jadi sikap saya akan tetap berpihak pada kepentingan rakyat banyak, menjaga kelangsungan pendidikan dan mengefisienkan pendidikan dari beban biaya yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan karakter dan pertumbuhan pendidikan Pancawaluya,” ujar Dedi.

Lebih lanjut, Dedi berharap kegiatan wisata tetap bisa dinikmati mereka yang memang secara ekonomi mampu. Sehingga tidak hanya institusi pendidikan yang menjadi target dari objek pariwisata.

“Semoga yang berwisata itu adalah orang luar negeri, orang-orang yang punya uang, yang memang murni melakukan kepariwisataan, yang didasarkan kemampuan ekonomi yang dimiliki, bukan orang-orang yang berpenghasilan pas-pasan dengan alasan study tour, akhirnya dipaksa harus pergi piknik atau walaupun tidak dipaksa anaknya ngamuk di rumah, karena malu kalau tidak ikut piknik,” tandas Dedi.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore