Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 Juni 2025 | 15.28 WIB

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki Selasa Petang Jadi yang Terbesar Sepanjang Tahun Ini

Gunung Lewotobi laki-Laki di NTT kembali erupsi pada Minggu (18/5). (Badan Geologi) - Image

Gunung Lewotobi laki-Laki di NTT kembali erupsi pada Minggu (18/5). (Badan Geologi)

JawaPos.com - Sejak 2023 lalu aktivitas Gunung Lewotobi Laki-Laki di wilayah Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) naik turun. Erupsi berulang terjadi. Termasuk erupsi pada Selasa petang (17/6). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat erupsi tersebut jadi yang terbesar sepanjang tahun ini. 

Muntahan kolom abu dalam erupsi tersebut memang tinggi. Mencapai 10 kilometer, bahkan lebih. Menurut catatan BNPB, erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki dengan ketinggian kolom abu antara 6-10 ribu atau lebih hanya terjadi beberapa kali pada periode akhir 2023 sampai pertengahan 2024. BNPB juga mencatat bahwa erupsi besar gunung api tersebut terjadi pada 1921 silam.

”Erupsi berikutnya yang signifikan terjadi pada 1935, ditandai dengan letusan eksplosif yang melontarkan abu dan lava pijar serta peningkatan aktivitas kegempaan yang cukup drastis,” terang Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari. 

Setelah itu, pada 1970 terjadi letusan bertipe strombolian dengan lontaran material hingga beberapa kilometer dari kawah. Letusan tersebut menyebabkan hujan abu ringan di beberapa desa sekitar lereng gunung. Kemudian terjadi lagi erupsi yang cukup besar pada 1991. Letusan itu salah satu erupsi gunung api paling kuat di akhir abad ke-20. 

”Letusan itu berdampak cukup signifikan terhadap aktivitas masyarakat dan menyebabkan peningkatan status gunung ke tingkat siaga,” beber Abdul Muhari. 

Lebih lanjut, dia menyatakan, erupsi terkini yang dimulai sejak akhir 2023 menunjukkan pola letusan yang kompleks dengan beberapa fase letusan freatomagmatik dan freatik. Sejak Desember 2023 hingga Februari 2024, tercatat lontaran material pijar, awan panas guguran, dan hujan abu lebat yang berdampak langsung pada sejumlah desa seperti Desa Boru dan Desa Klatanlo. 

”Ribuan warga terpaksa dievakuasi dan status gunung sempat dinaikkan ke Level IV Awas. Aktivitas mulai menurun secara bertahap menjelang pertengahan 2024, namun kondisi gunung masih tergolong fluktuatif dan terus dipantau secara intensif,” terang dia. 

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore