Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 7 Juni 2025 | 02.55 WIB

DKP Jogjakarta Bentuk Tim Khusus Tangani Buaya di Sungai Progo

Ilustrasi buaya (Dok. Pexels) - Image

Ilustrasi buaya (Dok. Pexels)

JawaPos.com–Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Daerah Istimewa Jogjakarta membentuk Tim Jejaring Penanganan Buaya. Hal tersebut menyusul kemunculan buaya di aliran Sungai Progo, Padukuhan Juwono, Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul.

”Sejak kami mendapat laporan, kami langsung terjun ke lapangan dan membentuk (Tim) Jejaring Penanganan Buaya bersama sejumlah instansi terkait," kata Kepala Bidang Kelautan Pesisir dan Pengawasan DKP DI Jogjakarta Veronica Vony Rorong seperti dilansir dari Antara, Jumat (6/6).

Tim gabungan itu terdiri atas DKP DI Jogjakarta, DKP Kabupaten Bantul, Loka PSPL Serang, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Fakultas Biologi UGM, Gembira Loka Zoo, serta sejumlah relawan.

Menurut Vony, pembentukan jejaring itu merupakan langkah awal menghadapi situasi yang belum pernah ditangani instansinya secara langsung, terutama dalam masa transisi pelimpahan kewenangan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan.

”Terus terang, kami juga baru kali ini menangani langsung kasus seperti ini. Tapi tentu saja ketika kami menerima laporan, kami tetap harus memberikan respons cepat agar masyarakat merasa aman,” ujar Veronica Vony Rorong.

Menurut dia, tim telah memberikan imbauan kepada warga dan memasang penanda di sekitar lokasi kemunculan buaya untuk menghindari aktivitas yang terlalu dekat dengan area tersebut.

”Tujuannya agar buaya tidak berpindah tempat. Karena kita tahu bersama, buaya itu hewan teritorial. Kami mengimbau masyarakat untuk seminimal mungkin menjauhi lokasi agar buaya tetap berada di wilayahnya,” terang Veronica Vony Rorong.

Menurut hasil pemantauan awal, ada dua ukuran buaya yang terekam warga. Salah satu berukuran besar dan satu lagi berukuran kecil, meskipun hingga saat ini keduanya belum pernah terlihat secara bersamaan.

”Jadi kami belum bisa pastikan jumlahnya. Tapi dengan dua ukuran itu, untuk sementara kami asumsikan ada dua ekor,” ucap Vony.

Dia menduga buaya-buaya tersebut bukan berasal dari habitat alami, melainkan buaya peliharaan yang dilepas ke alam. Hal ini mengingat Sungai Progo bukan habitat asli buaya.

”Kami mendengar ada juga orang yang memelihara buaya kecil, tentunya dari luar Jogja ya. Saat kecil terlihat lucu dan menggemaskan, tapi ketika sudah besar dan sifat predatornya muncul, bisa saja dilepas begitu saja. Tapi kami tidak tahu pasti, karena wilayah itu bukan habitat buaya,” terang Veronica Vony Rorong.

Hingga Jumat (6/6) pagi, DKP DI Jogjakarta masih menerima video dari warga yang merekam kemunculan buaya di lokasi yang sama. Tim pengamatan telah ditempatkan di titik tersebut untuk memantau kemunculan dan perilaku buaya.

”Setelah perilaku buaya diketahui, seperti jam muncul dan lokasinya, kami akan tentukan metode penanganannya. Apakah dijerat atau ditangkap aktif. Jenis buaya akan sangat mempengaruhi metode penanganan, dan saat ini kami masih belum tahu pasti jenisnya,” ucap Vony.

Dia memastikan Tim Jejaring Penanganan Buaya akan tetap disiagakan meski nanti buaya berhasil ditangkap guna mengantisipasi kasus serupa di kemudian hari.

”Intinya kami meminta masyarakat untuk tetap berhati-hati, menjaga kewaspadaan sampai tim berhasil menangkap buaya, dan nanti kami serahkan ke lembaga konservator,” tutur Vony.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore