
Dedi Mulyadi membagikan daging segar kepada warga sehari menjelang Idul Adha. (Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel)
JawaPos.com - Idul Adha, hari raya besar umat Islam, selalu menjadi momen penuh makna. Lebih dari sekadar penyembelihan hewan kurban, Idul Adha adalah simbol kepasrahan, pengorbanan, dan solidaritas sosial.
Di tengah gema takbir dan semangat berbagi, setiap orang merayakannya dengan cara yang berbeda. Salah satu yang menarik perhatian datang dari Lembur Pakuan, Subang, di mana Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjalankan tradisi yang menggugah hati.
Alih-alih menunggu hari H seperti kebanyakan orang, Dedi Mulyadi memilih untuk lebih dahulu turun ke jalan sehari sebelum Idul Adha. Ia menyusuri gang-gang sempit dan pelosok desa, membawa bungkusan daging segar untuk dibagikan langsung kepada warga miskin dan para lansia di sekitar kediaman pribadinya.
Daging itu bukan dari hewan kurban yang akan disembelih keesokan harinya, melainkan dari sapi yang telah ia potong lebih awal. Sebuah langkah kecil yang membawa dampak besar.
“Kalau dibagikannya pas hari H, warga baru bisa masak sore atau bahkan malam. Saya ingin mereka bisa makan daging lebih cepat, bahkan sebelum orang-orang sholat Idul Adha,” ujarnya dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya.
Tradisi tersebut dikatakan sudah dijalankan Dedi sejak lama. Bagi mantan Bupati Purwakarta itu, esensi dari Idul Adha tidak hanya terletak pada prosesi penyembelihan, tapi pada bagaimana semangat berkurban benar-benar menyentuh mereka yang membutuhkan, secara nyata dan tepat waktu.
Di tengah wajah-wajah lelah yang ia temui, pancaran kebahagiaan muncul seketika saat sebungkus daging berpindah tangan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sekadar daging. Namun bagi para penerimanya, itu adalah harapan, kehangatan, dan pengingat bahwa mereka tak sendiri.
“Nilai pengorbanan itu bukan hanya pada hewannya, tapi pada keikhlasan dan kecepatan memberi,” tutur Dedi, sembari terus melangkah menyapa warga.
Lebih dari sekadar berbagi, Dedi juga menitipkan nilai pada generasi muda yang ditemuinya. Ia mengajak mereka untuk membiasakan berbagi sejak dini, terutama kepada mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
“Kalau kita mampu makan enak, jangan lupa lihat tetangga. Barangkali mereka belum makan nasi dengan lauk daging selama berbulan-bulan,” pesannya.
Idul Adha sejatinya adalah momentum untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, sebuah kisah tentang keikhlasan melepaskan, serta ketaatan dalam pengorbanan.
Namun melalui tindakan nyata seperti yang dilakukan Dedi Mulyadi, makna itu menemukan bentuk baru: bukan hanya tentang menyembelih, tapi tentang memberi tanpa menunggu, dan mencintai tanpa syarat.
Dalam tradisi kemanusiaan ini, Idul Adha bukan sekadar hari raya. Ia menjadi perayaan kasih sayang, kepedulian, dan pengingat bahwa sejatinya kita semua bisa menjadi bagian dari solusi, asal mau melangkah lebih dulu.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
