Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Maret 2024 | 06.07 WIB

Tanggapi Kegaduhan Film Kiblat, Pengurus PWNU Jawa Timur Menilai Film Itu Minim Nilai Edukasi

KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang kini ditunjuk PBNU sebagai Pj Ketua PWNU Jatim. - Image

KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang kini ditunjuk PBNU sebagai Pj Ketua PWNU Jatim.

JawaPos.com–Sejumlah film horor Indonesia yang diputar di bioskop marak menggunakan istilah dan simbol agama, terutama agama Islam. Namun, film-film tersebut masih boleh dirilis secara luas.

Barulah saat film horor Indonesia berbau religi berjudul Kiblat akan dirilis dan sudah dipromosikan melalui trailer serta poster, banyak pihak yang menentang film tersebut. Mulai dari pemuka agama hingga warganet. Mereka bahkan meminta agar film Kiblat dilarang beredar di Indonesia.

Tentangan dari berbagai kalangan tersebut karena materi promosi dan judul film Kiblat dianggap melenceng dari syariat Islam.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang KH Abdul Hakim Mahfudz turut angkat suara terkait polemik film Kiblat tersebut. Ulama yang juga menjabat sebagai Pj Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu menilai film horor saat ini masih banyak yang minim dari segi edukasi.

Film horor ini menurut saya dari sisi pendidikan kurang. Anak-anak harus menguasai dan memahami keilmuan, sehingga bisa memilih film yang punya misi pendidikan,” kata KH Abdul Hakim Mahfudz pemuka agama yang akrab disapa Gus Kikin tersebut, Kamis (28/3), seperti dikutip dari Antara.

Dia menambahkan, para sineas horor saat ini banyak yang kurang mempertimbangkan faktor pendidikan saat membuat film.

”Sekarang ini banyak film yang lebih mengutamakan kepentingan komersial dan mengabaikan sisi pendidikan,” kata Gus Kikin.

Dia berharap film yang dibuat dan diedarkan ke masyarakat, termasuk film horor bisa memperkuat identitas bangsa dan juga memperkokoh fondasi keilmuan. Menanggapi poster film Kiblat, yang memuat gambar orang yang sedang rukuk namun wajahnya menengadah ke atas, Gus Ikin mengaku tidak paham apa maksud dari pembuatnya.

”Kami tidak tahu dasarnya membuat adegan itu apa. Mungkin bercanda atau apa. Tapi jika betul melecehkan harus ditindak,” tegas KH Abdul Hakim Mahfudz.

Sementara itu, Leo Pictures yang memproduksi film Kiblat meminta maaf atas kontroversi yang ditimbulkan dalam pembuatan film horor tersebut. Permintaan maaf itu disampaikan setelah pihak Leo Pictures melakukan pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk membahas film Kiblat.

Selain meminta maaf, Leo Pictures juga akan mengganti judul dan poster film arahan sutradara Bobby Prasetyo, agar layak diedarkan dan tidak menimbulkan polemik.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore