
Waliyin dan Ridduan saat menjalani sidang pemeriksaan terdakwa pada Kamis (18/1/2024) lalu.
JawaPos.com - Sidang kasus pembunuhan disertai mutilasi mahasiswa UMY Redho Tri Agustian di Pengadilan Negeri (PN) Sleman hampir mencapai babak akhir. Kedua terdakwa, Waliyin dan Ridduan, sudah melewati berbagai agenda persidangan. Mulai dari saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) maupun saksi yang meringankan dari penasihat hukum keduanya. Bahkan, barang bukti juga turut dihadirkan dalam persidangan.
Terakhir kali Waliyin dan Ridduan menjalani sidang pada Kamis (18/1/2024) lalu dengan agenda pemeriksaan keduanya. Keterangan dari keduanya menjadi sidang terakhir yang ditujukan untuk pembuktian. Dalam sidang tersebut, Waliyin dan Ridduan meminta maaf di hadapan majelis hakim.
Bahkan, Waliyin sampai menangis sesenggukan karena sedihnya meratapi kasus yang dihadapinya. Ketua majelis hakim Cahyono menyampaikan, bila Waliyin sempat berkeinginan untuk melakukan bunuh diri karena sangat stres usai melakukan tindakan menghilangkan nyawa Redho.
Cahyono mengatakan sidang dilanjutkan digelar pada Kamis (25/1) yang beragendakan pembacaan tuntutan dari JPU. Hanya tinggal hitungan hari untuk Waliyin dan Ridduan mendengarkan tuntutan dari JPU.
Jelang menjalani sidang tuntutan, penasihat hukum kedua terdakwa, Adi Susanto, menuturkan tuntutan yang pas untuk kliennya tergantung sudut pandang melihat perkara. "Tetapi kami atas nama penasihat hukum terdakwa Ridduan dan Waliyin, kami tidak meyakini sama sekali bahwa proses ini masuk dalam kategori Pasal 340 ataupun Pasal 338. Jadi tidak ada, ini murni lebih ke kelalaian saja yang mengakibatkan hilangnya nyawa," beber Adi, Minggu (21/1) dilansir dari Radar Jogja (Jawa Pos Group).
Adi menambahkan, niatan untuk menghilangkan nyawa ataupun melakukan penganiayaan berat sehingga sampai merampas nyawa korban sama sekali tidak pernah terbersit di dalam benak kedua terdakwa. Namun, Adi memastikan, apapun tuntutan dari JPU akan dihormatinya.
Menurutnya, tidak ada tuntutan secara detail yang diharapkannya. Tetapi, tentu akan tetap melakukan pembelaan dengan semaksimal mungkin yang akan berbeda pandangan dari JPU.
Adi menegaskan, pada sidang terakhir Kamis (18/1) lalu, sudah jelas terungkap tidak ada penyimpangan seksual dari terdakwa maupun korban. Menurutnya, selama ini tersiar di tengah-tengah masyarakat Jogjakarta khususnya bahwa kasus mutilasi mahasiswa UMY dilatarbelakangi antara korban maupun terdakwa masuk dalam kategori LGBT.
"Pada sidang terakhir, secara terang benderang sudah disampaikan bahwa BDSM yang dilakukan oleh korban dan pelaku murni karena memang mereka ini mencintai satu kekerasan saja," ungkapnya.
Bahkan tidak ada niatan untuk menyakiti dalam artian menganiaya korban. Adi menyebut, karena sakit yang dimaksud dalam hal ini adalah sakit yang memang sama-sama dikehendaki atau berdasarkan konsensus.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
