Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Desember 2023 | 23.34 WIB

Cerita Mencekam Pendaki yang Selamat dari Erupsi Gunung Marapi Sumbar, Berkat Sembunyi di Balik Batu

Pendaki selamat dari tragedi Erupsi Gunung Marapi. - Image

Pendaki selamat dari tragedi Erupsi Gunung Marapi.

JawaPos.com – Erupsi Gunung Marapi yang terjadi pada Minggu (3/12) menjadi hari yang tak terlupakan bagi para pendaki yang kala itu sedang mendaki ke Gunung Marapi. Erupsi tersebut terjadi tanpa adanya tanda-tanda kenaikan aktivitas vulkanik. Gunung yang secara administratif masuk di dua kabupaten Sumatera Barat itu secara tiba-tiba mengeluarkan muntahan material batuan disertai abu vulkanik.

Pada pukul 14.54 para pendaki yang masih berada di kawasan puncak gunung dibuat terkejut oleh ledakan dahsyat erupsi tersebut. Mereka kemudian lari berhamburan mencoba untuk menyelamatkan diri.

Salah satu pendaki yang selamat yakni Muhammad Fadli, berhasil dievakuasi Tim SAR pada Senin (4/12). Kini dirinya mendapat perawatan di rumah sakit akibat mengalami patah pada bagian jarinya.

Fadli bercerita saat erupsi terjadi dirinya berada di dekat Tugu Abel, tugu yang menjadi penanda jalur naik dan turunnya pendakian Gunung Marapi. Pada saat kejadian, Fadli sedang menuju ke kawasan Cadas, dan di saat yang bersamaan terdengar suara gemuruh disertai membumbungnya abu vulkanik dan material batuan yang mengarah kepadanya.

Sontak dirinya langsung berlindung di balik batu yang ada didekatnya. Ia berlindung bersama seorang teman bernama Bima.

“Di balik batu bang, ada batu besar di situ dan di situlah kami berlindung, saya sama Bima (salah seorang teman yang mendaki bersamanya),” ucap Fadli, seperti yang dikutip dari Antara, Kamis (7/12).

“Saya menahan batu itu pakai jari, lalu kebetulan ada batu turun yang kena tangan (jari) saya,” jelas Fadli sembari menunjukkan jarinya yang terluka.

Fadli dan Bima selamat dari amukan erupsi Gunung Marapi juga tidak lepas dari peran seorang temannya bernama Irfandi. Irfandi juga termasuk dalam pendaki yang selamat dari tragedi erupsi Gunung Marapi. Bermodalkan tas carrier yang dia bawa, Irfandi menggunakannya sebagai tempat perlindungan. Sementara dirinya berupaya menyelamatkan kedua temannya serta seorang pendaki lain ke lokasi yang lebih aman.

“Saya paling depan karena saya yang buka jalan. Teman lain yang di belakang tidak terlihat di sebelah mana. Pada saat material batu turun saya berlindung dengan tas carrier saya. Saya tidak tahu dimana yang lain. Yang terlihat hanya Fadli dan Bima,” kata Fadli.

Kisah perjuangan Fadli dan Irfandi yang lepas dari maut merupakan segelintir dari kelabunya tragedi erupsi Gunung Marapi yang menewaskan 23 pendaki.

Dari 75 orang pendaki yang terdata di sistem reservasi daring BKSDA Sumatera Barat, 74 di antaranya berhasil ditemukan dengan rincian 52 selamat, 23 orang meninggal dunia, dan satu orang dalam proses identifikasi.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore