Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Juli 2023 | 23.52 WIB

Pupuk Subsidi Kerap Langka, Anggota DPRD Jatim Minta Pemerintah Beri Insentif Pengguna Pupuk Organik

Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Erma Susanti. - Image

Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Erma Susanti.

JawaPos.com–Pupuk organik menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi kelangkaan pupuk subsidi dan melambungnya harga pupuk non subsidi. Dalam hal ini, pemerintah diminta untuk memperhatikan penggunaan pupuk organik.

”Pemerintah harus memberikan insentif bagi petani yang telah menggunakan pupuk organik. Bahwa persoalan kelangkaan pupuk subsidi dan mahalnya pupuk non subsidi dalam 3 tahun ini selalu menjadi masalah bagi petani,” ujar anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Erma Susanti, Rabu (5/7). 

”Sehingga petani harus mengeluarkan biaya produksi lebih banyak sementara harga gabah dan produksi pertanian lainnya juga tidak naik,” lanjut dia.

Menurut Erma, pengurangan dan pembatasan pupuk subsidi berdasar kebijakan Kementerian Keuangan terkait pengurangan alokasi APBN untuk subsidi pupuk. Hal tersebut tertuang dalam Permentan Nomor 10 Tahun 2022.  Dalam Permentan tersebut, hanya 9 komoditas yang mendapatkan pupuk subsidi. Yakni padi, jagung, kedelai, tebu, cabai, bawang merah, bawang putih, kopi, dan kakao. Padahal sebelumnya, ada 60 jenis komoditas.

”Jenis pupuk yang bersubsidi hanya urea dan NPK saja. Selain itu, jumlah alokasi kuota tidak sepenuhnya sama dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK),” jelas Erma Susanti.

Erma juga menjelaskan, pada 2023, untuk Provinsi Jawa Timur kuota urea sekitar 86 persen dari RDKK sementara NPK 42 persen dari RDKK. Hal tersebut dapat memberatkan petani dan mengancam produksi pangan.

”Penting dilakukan gerakan pupuk organik bagi petani. Banyak manfaat dan dampak positif dengan meningkatnya penggunaan pupuk organik oleh petani,” tutur Erma Susanti.

Menurut Erma, penggunaan pupuk organik mengurangi ketergantungan pupuk kimia bersubsidi sekaligus mengurangi biaya produksi karena petani bisa membuat sendiri. Makin banyak pertanian organik akan memperbaiki struktur hara tanah yang selama ini semakin rusak dengan pupuk kimia.

”Produk pertanian organik menghasilkan pangan sehat. Non racun yang tentunya baik bagi kesehatan pertumbuhan anak-anak generasi penerus kita,” tutur Erma.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan itu mengatakan, produktivitas pertanian dengan pupuk organik ternyata tidak kalah dengan pertanian yang menggunakan pupuk pabrik. 

”Selain kualitas lebih enak dan tahan lama agar gerakan pertanian organik lebih intensif, perlu ada insentif untuk petani pelaku organik, antara lain, berupa bantuan alat-alat produksi pupuk organik dan dampingan pemerintah agar hasil pertanian organik mendapatkan sertifikat organik sehingga nilai jual lebih tinggi,” ucap Erma Susanti

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore