
MEMANJAKAN MATA: Pemandangan dari belakang masjid. Di sebelah kiti tampak gapura Paduraksa di area situs pemakaman Sunan Sendang Duwur di Kecamatan Paciran, Lamongan.
Selain kompleks makam yang memiliki arsitektur menarik, Raden Nur Rahmad atau Sunan Sendang Duwur juga terkenal akan kesaktiannya. Salah satunya, kedigdayaannya saat memindahkan seluruh bangunan masjid hanya dalam semalam. Hingga kini masjid tersebut masih bertahan.
MAKAM Sunan Sendang Duwur berada di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Tepatnya di Bukit Tunon dengan ketinggian 50–70 meter di bawah permukaan laut (mdpl). Raden Nur Rahmad adalah anak Abdul Kohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad, Iraq. Sementara itu, sang ibu Dewi Sukarsih merupakan putri Tumenggung Sedayu.
Perpindahan Raden Nur Rahmad ke Bukit Tanon tidak lain karena adanya peperangan. Yakni, Kerajaan Ronggolawe di Tuban dengan Tumenggung Sedayu. Raden Nur Rahmad ditempa ibunya dengan berbagai ilmu di lokasi barunya tersebut.
Karena itu, Sunan Sendang dikenal mahir menguasai ilmu bercocok tanam. Setelah dirasa mumpuni, Dewi Sukarsih meninggalkan anaknya. Dia kembali ke Sedayu. ’’Di sini Raden Nur Rahmad menyebarkan ajaran Islam,’’ kata pengelola makam Sunan Sendang Duwur Irfan Masyhuri.
Nama Raden Nur Rahmad akhirnya terkenal. Bahkan, sampai terdengar ke telinga Sunan Drajat yang berdiam di Tuban. Karena dikenal sebagai pemuda sakti, Sunan Drajat pun datang untuk mengetes kemampuannya.
Beliau mengetes Sunan Sendang untuk mengambilkan buah siwalan dan air nira langsung dari pohon. Sunan Sendang hanya menepuk batang pohon siwalan yang tinggi, batang tersebut lantas melengkung ke arah Sunan Drajat. Buah siwalan pun mudah diambil.
Pertemuan itu membuat Raden Nur Rahmad dianugerahi gelar Sunan Sendang. Untuk menyempurnakan dakwahnya, Raden Nur Rahmad diutus untuk menanyakan masjid yang dibangun Ratu Kalinyamat di Jepara. Sebab, waktu itu di Bukit Tunon tidak ada kayu untuk membuat masjid.
Sesampainya di Mantingan, Jepara, sang ratu ternyata berpesan, siapa yang bisa membawa masjid dalam waktu semalam, masjid tersebut akan diberikan secara cuma-cuma.
Sunan Sendang pun bingung. Beliau bermunajat di sebuah gunung dan ditemui Sunan Kalijaga. ’’Dari cerita saat itu Raden Nur Rahmad disuruh ke Jepara lagi,’’ kata Irfan.
Atas izin Allah, lanjut dia, masjid dari Mantingan itu diboyong ke pucuk Bukit Tunon dalam waktu semalam. Setibanya di lokasi, masyarakat heboh. Raden Nur Rahmad pun menjelaskan kepada masyarakat. ’’Itu kenapa banyak yang nyebut ini Masjid Tiban,’’ ucap keturunan Raden Nur Rahmad itu.
Berdasar data, Masjid Sendang Duwur kali pertama dibangun pada 1561 Masehi. Kemudian dipugar pada 1929 Masehi. Sementara itu, kompleks makam dipugar pertama oleh Belanda pada 1937 dan selesai pada 1943. Hanya, pada 1950 lokasi tersebut terkena gempa. Akibatnya, beberapa bagian retak.
Kawasan situs makam Sendang Duwur memang menarik. Tidak ada data secara pasti sebutan dari lokasi itu. Yang jelas, beberapa relief kerajaan Hindu dan Buddha ditemukan di sana.
’’Masih menjadi pertanyaan relief yang ditemukan di lokasi,’’ kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan Siti Rubikah.
Bahkan, salah satu bagian situs gapura yang bernama Paduraksa dijadikan simbol Kota Lamongan. Beberapa gapura di perbatasan dibuat mirip dengan gapura Paduraksa di Sendang Duwur.
Irfan juga menuturkan, terdapat sumur kecil yang dalamnya hanya sekitar 50 sentimeter. Lokasinya berada di sekitar makam. Sumber air yang dinamai sumur Paidon itu dulunya adalah bekas Sunan Sendang meludah.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
