
Stadion Kanjuruhan Malang. Rafika Yahya/JawaPos.com
JawaPos.com–Otopsi korban tragedi Kanjuruhan akhirnya dilaksanakan, Sabtu (5/11). Dua dari tiga korban yang diotopsi adalah putri Devi Athok Yulfitri, 43.
Menurut pantauan tim JawaPos, Devi tampak berteriak histeris tidak lama setelah masuk ke tenda di TPU Dusun Patuk, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Di dalam tenda yang tertutup kain biru itu kedua putrinya Natasya Debi Ramadani, 16; dan Naila Debi Anggraini, 14, korban tragedi Kanjuruhan dimakamkan.
”Anakku mati, Yah. Anakku mati. Anakku diracun,” teriak Devi sembari menangis.
Beberapa suporter Arema membopongnya keluar tenda dan bergantian menenangkan. Salah satunya adalah Anto Baret, suporter senior.
”Iling Dev, iling. Iki perjuangan. Koen gak ijen. Kabeh Aremania nang mburimu (Ingat Dev, ingat. Ini perjuangan. Kamu tidak sendiri. Semua Suporter Arema di belakangmu,” kata Anto Baret.
Namun ungkapan itu tak juga menenangkan Devi, dia makin kencang berteriak. Devi lalu pingsan tak sadarkan diri.
Lokasi pemakaman itu sudah ramai didatangi orang sejak pukul 07.00. Akses jalannya dijaga ketat polisi. Belasan petugas medis terlihat memasuki tenda satu jam kemudian untuk persiapan ekshumasi sebagai rangkaian awal proses otopsi. Devi yang tiba pukul 09.00 didampingi tim pengacara dan suporter Arema menyusul masuk tenda.
Menurut informasi, terdapat delapan dokter forensik yang terlibat otopsi. Mereka adalah tim independen yang dibentuk secara khusus oleh Persatuan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Jatim.
”Dasar dari kegiatan ini adalah permintaan surat visum et repertum dari penyidik untuk melaksanakan penggalian jenazah,” ujar Ketua PDIF Jatim Nabil Bahasuan yang juga bagian dari tim dokter yang melakukan otopsi.
Nabil menyampaikan, tim independen tidak hanya terdiri atas enam dokter di lokasi yang menjadi operator. Namun, juga dua orang lain sebagai penasihat. ”Mereka (penasihat) tidak ikut ke sini,” jelas Nabil Bahasuan.
Dia menerangkan, pelaksanaan otopsi melibatkan tiga fakultas kedokteran dari tiga universitas dan empat fasilitas kesehatan. Yakni, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Universitas Hang Tuah Surabaya. Kemudian Universitas Muhammadiyah Malang, RSUD Soetomo Surabaya, RS Unair Surabaya, RSUD Kanjuruhan Malang, dan RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan.
”Mohon doanya agar tim kami bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik dan lancar,” tutur Nabil Bahasuan.
Berdasar pantauan, otopsi itu berlangsung sekitar tujuh jam. Nabil dan dokter lain keluar tenda pukul 16.00 WIB. ”Hasil otopsi paling lama 8 minggu. Bisa lebih cepat. Dalam kedokteran rentang waktu terlama yang dipakai,” ucap Nabil.
Bila dihitung, artinya hasil otopsi bakal keluar pada Januari 2023 mendatang.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
