Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 September 2022 | 06.28 WIB

Upaya Meningkatkan Literasi Keuangan Syariah yang Masih Rendah

Photo - Image

Photo

JawaPos.com-Tingkat literasi keuangan syariah masyarakat Indonesia masih rendah. Ini berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa indeks literasi keuangan syariah pada tahun 2019 adalah sebesar 38,03%.

Artinya dari 10 masyarakat Indonesia, hanya 3 sampai 4 orang yang memahami produk keuangan syariah dengan baik.

Hal ini patut menjadi perhatian khusus. Sebab, keuangan syariah di Indonesia punya potensi pertumbuhan yag besar. Alasannya, Indonesia adalah negara dengan populasi mayoritas muslim terbesar di dunia.

Selain itu, dengan semakin maraknya kasus penipuan berinvestasi pada sekuritas dengan volatilitas yang tinggi, investasi pada produk keuangan syariah bisa menjadi jalan keluar.

Prinsip profit and loss sharing (PLS) menjadikan produk keuangan syariah lebih stabil dan memiliki resistensi yang tinggi terhadap gejolak perubahan atau krisis. Hal ini menjadi solusi berinvestasi yang cerdas, terutama untuk para investor baru.

Dalam rangka meningkatkan literasi keuangan syariah, Program Studi Sarjana Ekonomi Islam Universitas Airlangga menyelenggarakan seminar bertajuk "Pasar Modal Syariah".

Menurut Koordinator Program Studi S1 Ekonomi Islam, Unair Bayu Arie Fianto, Ph.D tema seminar ini adalah “Kiat Cerdas Berinvestasi Pasca Pandemi Covid-19". Seminar ini berlangsung secara daring pada Sabtu 17 September 2022. Lebih dari 70 peserta hadir dalam seminar ini.

Mereka datang dari berbagai kalangan. Antara lain siswa SMA, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan para investor muda. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari riset mandat khusus Covid-19 yang berjudul “Islamic Stock Return and Commodities Nexus during Financial and Non-Financial (COVID-19) Crisis.”

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber yang merupakan pakar dan trader aktif di pasar modal syariah.

Narasumber pertama adalah Ahmad Fadlur Rahman Bayuny, seorang akademisi dan dosen pasar modal syariah dari Departemen Ekonomi Syariah Unair.

Fadlur Rahman membagi tips memilih saham dengan menggunakan analisis teknikal dan fundamental. Khususnya pasca pandemi Covid-19.

“Membeli saham itu sama dengan membeli perusahaan, sehingga diperlukan analisis untuk mengetahui apakah perusahaan tersebut pantas untuk kita beli,” ucapnya dikutip dari siaran pers yang diterima JawaPos.com.

Narasumber kedua adalah perwakilan dari Bursa Efek Indonesia, Rosyidah. Alumnus program studi sarjana Ekonomi Islam Unair itu menjelaskan perbedaan antara saham syariah dan saham nonsyariah.

Seminar ini ditutup oleh pembicara ketiga yang datang dari perusahaan sekuritas Indo Premier, Isa Martian. Dia berbagi pengetahuan tentang cara melakukan investasi di pasar modal syariah. Lalu soal robot trading sampai aplikasi yang mudah digunakan untuk berinvestasi di pasar modal syariah.

Antusiasme para peserta pada kegiatan ini sangat tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya interaksi peserta dengan para narasumber.

Ada yang menanyakan teknis dan tips mendapatkan keuntungan yang tinggi pasca Covid-19. Ada pula yang menanyakan terkait dengan masa depan pasar modal syariah di Indonesia.

Sebagai evaluasi, dilakukan pre dan post-test. Tujuannya untuk mengukur pemahaman peserta terkait dengan materi yang disampaikan.

Hasil evaluasi kemudian dijadikan bahan penelitian lanjutan. Selain itu, seminar ini diharapkan mampu memberi kontribusi dalam rangka meningkatkan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah masyarakat Indonesia.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore