
Photo
JawaPos.com- Revitalisasi makam Nyai Andongsari, yang dipercaya sebagai ibunda Mahapatih Gajah Mada, terus dilakukan. Kini, lokasi wisata religi di Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Lamongan, Jatim, itupun makin ramai dikunjungi wisatawan. Tidak hanya warga sekitar, juga dari berbagai pelosok nusantara.
Menurut Rudi Hariono, ketua tim pembangunan, pemugaran kompleks wisata religi itu sudah lima bulan berjalan. Diperkirakan menelan anggaran lebih dari Rp 2 miliar. Selain dari Pemkab Lamongan, sebagian besar dana berasal swadaya masyarakat. ’’Alhamdulillah, progresnya cepat sekali,’’ ujarnya kepada Jawa Pos, Minggu (26/9).
Makam Nyai Angdongsari berada di perbukitan. Warga menyebutnya sebagai Bukit Ratu. Ketinggiannya sekitar 150-200 meter di atas permukaan laut (mpdl). Menapak ratusan anak tangga seperti menuju makam Sunan Giri, Gresik. Dari jalur utama Jalan Raya Babat-Jombang, untuk menuju ke lokasi aksesnya sudah cukup bagus. Berpaving.
Saar ini, wajah kompleks makam Nyai Andongsari telah bertransformasi. Terasa lebih terbuka. Nyaman. Rerimbunan aneka pohon membuat suasana adem. Tidak seperti sebelum direvitalisasi. Ada kesan singup dan tertutup. ‘’Sebelum dilakukan pemugaran, sempat ada perdebatan. Namun, hal itu biasa,’’ ujar Hari.
Sebelumnya, cungkup makam Nyai Andongsari berada di dalam bangunan tertutup dan kecil. Kini, dibangun lebih luas dan terbuka. Bangunan tidak lagi berdinding. Sama dengan makam religi lainnya, di sekitarnya juga terdapat beberapa buku Yasin dan tahlil.
Tidak jauh dari bangunan cungkup, tampak pekerja juga sedang membangun musala cukup besar. Beberapa pekerja lain membuat sumur bor. Untuk mencukupi kebutuhan air para pengunjung.
Beberapa jam Jawa Pos berada di kompleks wisata religi tersebut, puluhan pengunjung datang untuk berziarah. Ada yang menggunakan mobil pribadi. Ada juga yang berombongan.
Tidak sedikit dari pengunjung itu lansia dan anak-anak. Padahal, untuk menuju ke atas bukit, lumayan menguras tenaga. Namun, mereka terlihat enjoy. Lokasi itu memang sangat potensial untuk berkembang. Asalkan, keindahan, sarana dan prasarana pendukungnya terus dilengkapi.
Hal yang menarik lainnya di wisata religi di Bukit Ratu itu adalah tebaran bendera merah putih. Selain berkibar di tiang dekat cungkup, beberapa pohon besar juga berselubung kain merah putih.
Dalam sejarahnya, warna merah dan putih memang disebut identik dengan Gajah Mada. Simbol keberanian dan kesucian tatkala menyatukan nusantara melalui sumpah palapanya.
Revitalisasi makam Nyai Andongsari itu menjadi salah satu program besar Bupati Yuhronur Efendi. Dalam beberapa kesempatan bupati menyebut, program itu sebagai wujud penghormatan kepada leluhur. Selain itu sejalan dengan tagline yang diusung pemkab, yaitu menuju kejayaan Lamongan yang berkeadilan. Ada senam situs makam lain yang dipugar pada 2022.
Selain makam Nyai Andongsari, lokasi lainnya adalah makam Mbah Lamong, di Kelurahan Tumenggungan; Makam Joko Tingkir di Pringgoboyo, Kecamatan Maduran; Makam Mbah Kinameng di Kelurahan Sukomulyo; makam Syaikh Hasan Ali, di Kecamatan Modo; dan makam Rangga Abu, bupati pertama, di Sukomulyo.
Photo
Pekerja sedang membangun musala di kompleks situs makam Nyai Andongsari, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Lamongan/
Asal-Usul Nyai Andongsari
Menurut Hari, Nyai atau Dewi Andongsari adalah salah seorang istri dari Raden Wijaya, raja pertama Kerajaan Majapahit. Sebenarnya, Andongsari bernama Dara Pethak, putri dari Kerajaan Dharmasyara. Nah, pengangkatan Andongsari sebagai istri yang dituakan di kerajaan kala itu disebut menimbulkan kecemburuan dari permaisuri lain.
Terutama saat Andongsari memiliki keturunan. Ada kekhawatiran, kelak putra Andongsari itu akan menjadi raja. Akhirnya, disingkirkan dari kerajaan. Kemudian, Andongsari memilih tinggal di wilayah yang belakangan disebut Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan.
‘’Penamaan Lamongan itu kan belakangan saja. Dulu zaman Majapahit kan belum ada nama Lamongan. Yang jelas, dari cerita turun temurun beliau tinggal di sini. Dan, belum tentu juga kan beliau itu diusir. Kan itu hanya cerita versi. Bisa jadi, di sini juga termasuk pusat peradabannya,’’ kata Rudi.
Nah, singkat cerita, Andongsari kemudian Ki Gede Sidowayah, seorang ahli pembuat senjata pusaka atau Mpu. Lantas, Andongsari melahirkan seorang putra yang diberi nama Gajah Mada.
Andongsari meninggal dunia saat sang anak masih kecil. Gajah Mada kecil pun dalam asuhan Ki Gede Sidowayah. Kelak kemudian Gajah Mada menjadi prajurit Majapahit hingga menjadi Mahapatih.
Dalam sebuah diskusi yang dihelat Pemkab Lamongan 2013 silam, Emha Ainun Najib (Cak Nun) bersama guru besar Unair Prof Suparto Wijoyo juga pernah menyebut bahwa dari sejarah yang bukan karya orang Barat, tanah di Lamongan, Tuban, Jombang dan sekitarnya itu termasuk bertuah. Cikal bakal budaya peradaban Indonesia.
Bahkan, Cak Nun menyebut bukan hanya Gajah Mada yang terlahir di wilayah yang di era Orba diberi nama Kabupaten Lamongan, namun juga Hayam Wuruk. Kalau Hayam Wuruk yang sebagai raja, Gajah Mada itu kalau sekarang adalah perdana menterinya. Jadi, jauh sebelum tata pemerimtahan seperti saat ini, pemerintahan di Jawa dulu sudah memberikan contoh.
Sebelum dibuka resmi pada 1999, lanjut Hari, situs makam Nyai Andongsari itu dijaga dengan baik oleh warga setempat. Warga juga rutin menggelar tasyakuran sedekah bumi dan istighotsah pada setiap Selasa Wage, bulan Mei.
Pada momen peringatan Hari Jadi Kota Lamongan dan HUT Kemerdekaan RI juga menjadi tempat ziarah para tokoh. ’’Insya Allah setelah revitalisasi ini selesai, akan semakin ramai,’’ pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
