
Dinas Kebudayaan Palembang memasang spanduk berisi koreksi sejarah pempek. Antara
JawaPos.com–Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sumsel, menyebar spanduk ke sejumlah titik. Spanduk itu berisi koreksi sejarah asal pempek untuk meluruskan informasi seputar kudapan khas dari daerah tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Zanariah seperti dilansir dari Antara di Palembang mengatakan, sejarah tentang pempek yang beredar di masyarakat maupun internet mengalami simpang siur dan kekeliruan terkait asal muasal kemunculannya.
”Beberapa informasi menyebutkan pempek berasal dari Tiongkok. Itu keliru karena setelah dikaji lebih dalam ternyata pempek memang asli buatan orang Palembang,” ujar Zanariah.
Koreksi sejarah pempek diperlukan untuk memantapkan pengusulan pempek menjadi warisan dunia UNESCO yang tengah berjalan. Sebelumnya, kudapan mengandung ikan itu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2014.
Anggota Tim Kajian (adhoc) Pempek untuk Warisan Dunia Tak Benda UNESCO Vebri Al-lintani mengatakan, terdapat informasi yang beredar di internet terkait pempek yang keliru namun sudah kepalang menyebar.
Dia menjelaskan, sagu sebagai bahan dasar pempek sudah ditanam sejak masa Kedatuan Sriwijaya tahun 684 Masehi. Berdasar isi Prasasti Talang Tuo, diyakini pembuatan pempek sudah ada dari masa itu. Sedangkan kelapa aren juga telah ditanam sejak masa Kedatuan Sriwijaya, diyakini menjadi bahan dasar pembuatan cuka yang kemudian menjadi pelengkap hidangan pempek.
”Dalam penyajiannya, pempek tidak bisa dipisahkan dari cuka (kuah),” terang Vebri.
Sebelum dikenal dengan nama pempek, kudapan tersebut dikenal dengan nama kelesan yang berarti ditekan-tekan berdasar pembuatannya menggunakan piri'an (mangkok yang tengahnya berlubang-lubang). Selain itu, dahulu pempek dibuat perempuan-perempuan Suku Palembang hanya untuk makanan rumahan. Barulah komersialisasi kelesan dimulai oleh orang Tionghoa sekitar tahun 1916.
Menurut Vebri, penjual kelesan tersebut berjualan di sekitar Masjid Agung Palembang dan akrab dipanggil apek atau empek. Penjualannya menggunakan sepeda sehingga dengan cepat kelesan (pempek) menjadi penganan publik.
”Maka informasi yang menyebut pempek dijual sejak masa Kesultanan Palembang abad ke 16 itu juga keliru. Sebab, jalan darat baru dibangun Belanda pada abad ke-16, sebelum itu orang-orang mengandalkan perahu,” jelas Vebri.
Vebri berharap koreksi terkait sejarah pempek dapat memberikan pemahaman ke seluruh Indonesia karena pempek telah didaftarkan ke Kemendikud untuk diusulkan menjadi Warisan Dunia UNESCO.
”Pengusulan ke UNESCO wewenang Kemendikbud, pempek statusnya masih antre sembari melengkapi kekurangan syarat-syaratnya,” ujar Vebri.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=OxVD4z70r_I

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
