Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Juli 2020 | 13.32 WIB

Diserang Tikus, Petani Jagung Gagal Panen

GAGAL PANEN: Warga Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, menunggui ladang mereka agar tidak dijarah kera-kera liar. - Image

GAGAL PANEN: Warga Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, menunggui ladang mereka agar tidak dijarah kera-kera liar.

JawaPos.com – Hasil panen padi sejumlah petani di Desa/Kecamatan Semen merosot. Ini karena tanaman diserang hama tikus dan burung. Selain itu, lahan kekeringan gara-gara petani kesulitan air.

“(Hasil) panen berkurang hampir 40 persen,” ungkapYanto, 55, petani Semen seperti di kutip Radar Kediri.

Menurutnya, panen pada musim penghujan kemarin bisa sampai 4 ton. Namun sekarang hanya 2 ton saja. Penyebab produksi buruk itu akibat kurangnya pasokan air. Selain itu juga dari serangan hama tikus dan burung.

“Saya itu sudah memasang alat pengusir burung. Tapi tetap diserang. Sedangkan pasokan air kemarau harus bergiliran seminggu sekali,” ujar Yanto ketika ditemui di gubuk sawahnya.

Tanaman padi, diakuinya, kesulitan air saat kemarau. Makanya petani mengharapkan air dari sungai terdekat dan hujan. Apalagi, belum ada yang punya sumur di sawah.

Pada saat hujan, Yanto mengaku, petani terkadang masih mengalami rugi. Sebab, tanaman padi ambruk karena hujan disertai angin kencang. Sedangkan hama tikus bisa diatasi dengan jebakan. Hanya saja, petani kewalahan jika diserang tiap hari.“Bagian atas tanaman diserang burung, bawahnya digerogoti tikus,” keluh Yanto.

Terpisah, petani jagung dari beberapa desa di Kecamatan Gampengrejo malah mengalami gagal panen. Itu akibat tanamannya diserang hama tikus. Semua tanaman jagung ludes. “Ya ini semuanya rusak Mbak. Nggak jadi panen,” ujar Murdi, 65, petani Desa Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo saat ditemui di sawahnya.

Sawah Murdi seluas 50 ru (1 ru=14 meter persegi). Kondisinya sangat kering dan jagungnya rusak bahkan busuk. Sebelumnya, ia menanam benih sebanyak 2,5 kilogram (kg). Biasanya membutuhkan waktu 4 bulan untuk panen.

Namun saat jagung berumur dua bulan sudah ludes dimakan tikus. “Baru dua bulan sudah dinaiki tikus. Terus jagungnya dimakan Mbak,” imbuhnya. Padahal, Murdi sudah memberikan racun pembunuh tikus. Namun tetap saja tanamannya diserang.

Berbeda dengan sawah Mundori, 70, warga Desa Turus, Kecamatan Gampengrejo. Tanaman jagungnya tidak terlalu rusak. Pasalnya, tidak banyak tikus yang menyerang. “Tikus ya ada Mbak, tapi gak terlalu banyak kayak di Desa Plosorejo,” ungkap Mundori. Ia juga menyebutkan jika sawah di sekitar Plosorejo memang banyak yang gagal panen akibat tikus.

Mundori mengaku, memiliki cara untuk membasmi tikus. Yakni dengan cara diberi perangkap. Upaya itu dinilai cukup efektif. Hanya saja, yang berukuran besar saja yang terperangkap. “Ya ini bisanya diberi perangkap tikus Mbak, tapi yang kecil-kecil gak kena,” imbuhnya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore