Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 Januari 2020 | 21.48 WIB

Muncul Gas Beracun di Kawah Ijen, Wisatawan Diimbau Jauhi Blue Fire

SIKLUS RUTIN: Gelembung berisi gas beracun terpantau di Kawah Ijen, Banyuwangi, kemarin. Fenomena ini berlangsung sejak Senin (13/1). (Ramada Kusuma/Jawa Pos Radar Banyuwangi) - Image

SIKLUS RUTIN: Gelembung berisi gas beracun terpantau di Kawah Ijen, Banyuwangi, kemarin. Fenomena ini berlangsung sejak Senin (13/1). (Ramada Kusuma/Jawa Pos Radar Banyuwangi)

JawaPos.com – Gelembung berisi gas beracun kembali terpantau di kawah Gunung Ijen. Dalam sepekan terakhir, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gunung Ijen menemukan adanya dua kali aktivitas bubble yang berisi gas SO2 (sulfur dioksida) dan CO2 (karbon dioksida).

Pantauan pertama terlihat pada Senin (13/1) pukul 00.44. Kemudian pantauan kedua terlihat pada Selasa (14/1) pukul 03.00 dan 16.45. Hingga kini PVMBG belum menemukan kembali aktivitas gelembung. Petugas juga belum bisa memastikan kapan aktivitas gelembung tersebut benar-benar usai. Di mata PVMBG, fenomena itu merupakan siklus rutin di tengah musim hujan.

Kepala PVMBG Gunung Ijen Bambang Heri Purwanto menjelaskan, fenomena semacam itu memang kejadian langganan jika mulai memasuki musim hujan. Biasanya, ungkap dia, aktivitas gelembung kian meningkat pada Februari sampai Maret. ”Ini baru indikasi pertama. Kami harap tidak terus berkembang. Yang terparah pernah terjadi Maret 2018 lalu. Gasnya lepas mengikuti aliran sungai sehingga mengenai warga,” jelasnya.

Heri menambahkan, gelembung yang terpantau lebarnya sekitar 50 meter, kemudian meletus. Sebenarnya kalau cuma CO2 mungkin tidak berbahaya. Tapi, ketika konsentrasinya pekat, justru berbahaya.

Terkait antisipasi dampak dari gas tersebut, Heri mengaku sudah memberikan rekomendasi kepada BKSDA agar pengunjung tidak mendekati area radius 1 kilometer dari kawah. Sebab, dari pantauan timnya, masih terlihat jejak belerang merica atau sisa letusan bubble di beberapa titik kawah.

”Normalnya suhu kawah 30 sampai 40 derajat Celsius. Kalau terlalu tinggi berbahaya. Terlalu rendah seperti saat ini 20,7 derajat Celsius juga rawan. Ada proses upwelling yang membuat gas dari bawah keluar ke atas,” paparnya.

Petugas PVMBG Gunung Ijen Suparjan menerangkan, penambahan debit air di kawah Ijen meningkat cukup banyak selama musim hujan. Dalam kondisi normal, debit air di kawah mencapai 27 juta meter kubik. Saat ini jumlah air mencapai 30 juta meter kubik.

Kepala Resort Taman Wisata Alam (TWA) Ijen Sigit Hari Bowo menambahkan, berdasar informasi dari PVMBG dan diperkuat pantauan langsung petugas dari PT Candi Ngrimbi, ada aktivitas gelembung beracun di kawah Ijen. Pihaknya sudah mengimbau langsung kepada penambang, terutama pengunjung, agar tidak memaksakan diri mendekati api biru (blue fire). ”Siklus ini biasanya terjadi ketika hujan deras dan matahari juga tidak terik. Jadi, proses penguapannya tidak maksimal,” terangnya.

GELEMBUNG YANG MUNCUL DI KAWAH IJEN


  1. Berisi gas karbon dioksida pekat.

  2. Gas itu muncul dari dasar kawah.

  3. Umumnya, gas tersebut bisa keluar dengan bebas saat suhu kawah berada di angka normal, yakni 30–40 derajat Celsius, dan langsung menguap ke udara.

  4. Karena hujan yang turun menutupi kawah, akhirnya terdapat hambatan yang membuat gas tidak bisa leluasa keluar.

  5. Gas terkumpul menjadi gelembung yang berisi gas pekat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore