
Photo
JawaPos.com - Petani Tebu Lamongan gundah. Pasalnya, selama dua tahun terakhir tak meraih untung. Meski harga tebu naik tahun ini, tapi tidak sesuai ekspektasi. Rilis harga tebu dari pabrik gula untuk rendemen 7,5 sekitar Rp 60.500 per kwintal. Harga tersebut naik sekitar Rp 5.000 dari tahun sebelumnya. Namun harga tersebut masih tergolong rendah. Karena biaya produksi semakin besar, sehingga petani tetap tak meraih untung.
Asosiasi Petani Tebu Sambeng Lamongan, Kacung Purwanto menuturkan, meski naik, harga tebu tahun ini masih tergolong rendah. Kenaikannya tidak menggembirakan petani. Karena biaya produksi besar. Apalagi harga pembelian gula tahun ini juga hanya mengalami kenaikan Rp 500 per kg. “Kalau sudah dipotong produksi dan biaya perawatan, petani tidak mendulang untung,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, Selasa (13/8).
Saat ini, petani tebu tidak bisa berharap banyak dari harga tebu. Mereka hanya mengandalkan laba dari penjualan gula. Sementara pemerintah merilis harga Rp 10.200 per kg, naik disbanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 9.700 per kg. Kenaikan itu dinilai masih kurang. ‘’Idealnya harga gula Rp 11.000 per kg,’’ katanya.
Pria yang juga anggota DPRD Lamongan mengungkapkan, petani tebu sudah dua tahun terakhir tidak untung. Sehingga banyak petani tebu yang beralih tanam palawija. Jika sebelumnya, luas tanam petani tebu di wilayah Sambeng mencapai 700 hektar setiap tahun, tahun ini hanya 500 hektare. ‘’Karena modalnya besar, tapi harga setiap tahun tidak menggembirakan,’’ tukasnya.
Kacung melanjutkan, kondisi itu diperparah tahun lalu penyerapan dan pembayaran gula sempat lambat. Hingga Oktober gula petani masih belum terserap. Akibatnya musim tanam sempat mundur dari jadwal. Jika biasanya, bulan Agustus-September petani sudah mulai tanam. Mundur sekitar satu bulan baru tanam. “Untungnya bulan ini sudah ada yang panen sekitar 50 persen, meski tanamnya tidak bersamaan,” paparnya.
Dia menuturkan, tahun ini diterapkan lelang terbuka untuk pembelian gula petani. Sehingga diharapkan tidak ada penyerapan yang mundur. Sehingga ke depannya petani bisa melakukan tanam sesuai jadwal. Sebab petani tebu banyak yang bermitra. Jika penyerapan gula mundur, mereka kesulitan mencairkan dana. ‘’Apalagi petani tebu hanya panen satu kali. Mereka hanya mengandalkan penghasilan dari tebu untuk kebutuhan sehari-hari,’’ tuturnya.
Kasi Perkebunan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan, Suryo menjelaskan, teknis penyerapan gula langsung antara petani dan pembeli. Sehingga pihaknya tidak mengetahui persis. Namun, sesuai kebijakan pemerintah pusat, seluruh gula petani tetap harus dibeli, tapi bertahap. Terkait luas tanam yang berkurang, dia mengklaim ada kemungkinan petani sudah habis masa sewa lahan. ‘’Sehingga tidak bisa melanjutkan sewa,’’ klaimnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
