Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Februari 2019 | 16.15 WIB

Melihat Akulturasi Dua Budaya Beda Negara di Solo

GEREBEK SUDIRO: Ribuan warga memadati Gerebek Sudiro, Solo, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (3/2). - Image

GEREBEK SUDIRO: Ribuan warga memadati Gerebek Sudiro, Solo, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (3/2).

JawaPos.com - Memasuki bulan Februari, kawasan Sudiroprajan, Jebres, Solo, Jawa Tengah tampak berbeda. Beragam hiasan terpasang di kawasan tersebut. Mulai dari lampion dan juga hiasan ikonik Imlek lainnya.


Memang tidak aneh jika hiasan tersebut menghiasi kawasan Sudiroprajan. Mengingat, kawasan ini menjadi kawasan pecinan terbesar di Kota Solo. Perpaduan antara keturunan Tionghoa dan Jawa sudah lama berbaur di kawasan tersebut.


Dari perpaduan inilah kemudian menghadirkan akulturasi budaya baru. Keharmonisan kehidupan masyarakat Jawa dan Tionghoa sangat terasa di wilayah ini. Keduanya saling melengkapi satu sama lainnya. Bahkan ikatan di masyarakat sangatlah erat. Keduanya saling menjaga satu sama lain. Dan isu perbedaan etnis pun tidak mempan digempurkan di kawasan ini.


Ikatan yang terjalin sejak puluhan tahun silam itu masih terjaga. Bahkan semakin erat setiap waktunya. Hingga akhirnya lahirnya sebuah tradisi yang menjadi akulturasi budaya baru yakni Gerebek Sudiro. Gelaran budaya ini menjadi rangkaian perayaan Imlek di Solo.


Gerebek diadakan beberapa hari sebelum puncak perayaan Imlek. Selain menghadirkan budaya Jawa, dalam gerebek ini juga menghadirkan budaya Tionghoa. Seperti pertunjukan kesenian Barongsai dan juga Liong. Kesenian ini begitu tumbuh subur di wilayah ini. Bahkan semakin hari, peminatnya juga semakin banyak.


"Event ini untuk memperlihatkan adanya akulturasi dua budaya yang ada di Sudiroprajan. Selain itu juga untuk memperlihatkan potensi wilayah," ungkap Henry Susanto salah satu tokoh masyarakat Sudiroprajan.


Kedamaian pun begitu dirasakan oleh warga Tionghoa yang sudah puluhan tahun tinggal di Solo. Salah satunya seperti yang diungkapkan oleh tokoh Tionghoa, Sumartono Hadinoto. Pria yang akrab disapa Martono ini menyampaikan, bahwa sebelumnya memang sempat mendapatkan perlakuan yang berbeda. Hal ini karena adanya perbedaan etnis. Akan tetapi, perlahan semuanya pun telah berubah.


"Sekarang sudah sangat nyaman berada di Solo, kalau dulu memang sempat ada diskriminasi. Isu-isu yang menyangkut etnis menjadi yang paling ditakuti," ungkapnya kepada JawaPos.com, Senin (4/2). 


Seiring berjalannya waktu, Martono menyampaikan, perlakuan yang berbeda itu pun akhirnya hilang. Dan sekarang semua mendapatkan perlakuan yang sama. "Bahkan sekarang ini generasi muda juga sudah tidak lagi memandang mengenai latar belakang etnisnya. Semuanya berpadu dengan harmonisnya," ucapnya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore