
ILUSTRASI: Sebanyak 1.204 warga Jawa Tengah menjadi penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
JawaPos.com - Sebanyak 1.204 warga Jawa Tengah menjadi penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Rata-rata mereka yang terserang berumur antara 5-15 tahun.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo, Kamis (31/1). Namun ia mengatakan, tak menutup kemungkinan bagi balita serta lansia untuk terserang penyakit ini.
Kondisi itu, sebagaimana Yulianto beberkan, disebabkan karena adanya mutasi virus. "Kita mencanangkan waspada KLB (Kejadian Luar Biasa) di beberapa daerah karena kasus meningkat, seperti Sragen, Grobogan, Jepara, Pati, Kudus," jelasnya.
Ia merinci, dari ribuan penderita DBD ini tersebar di wilayahnya. Dan yang paling banyak adalah Kabupaten Sragen 200 orang, Grobogan 150 kasus, Pati 87 kasus, Jepara 78 kasus, Blora 75 kasus, Purbalingga 76 kasus, Cilacap 71 kasus, Boyolali 51 kasus. "Daerah lainnya di bawah 50 kasus," sambungnya.
Timbulnya penyakit DBD dipicu tinggi tidaknya potensi suatu lingkungan dijadikan tempat bersarang dan berkembang biak nyamuk Aedes aegepty. Oleh karenanya, ia mengimbau agar warga mau memperhatikan tempat tinggalnya, mulai dari bak mandi, kaleng, juga ban bekas.
"Maka setiap rumah kita minta ada satu Juru Pemantau Jentik (jumantik) memastikan di rumah tidak ada jentik. Indikatornya ABJ (Angka Bebas Jentik) harus di atas 95 persen. Kalau di atas itu dipastikan sedikit kasus yang terjadi," imbuhnya.
Dalam upaya pencegahan ini, ia mengkisahkan soal sejumlah desa yang membuat aturan lokal, berupa peraturan desa atau peraturan Kepala desa. Semisal didapati warga yang luput mendeteksi lokasi jentik, makan bakal dijatuhi sanksi sosial. "Hal seperti ini cukup efektif untuk melakukan pencegahan ini," jelasnya.
Saat ini, lanjut Yulianto, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan tengah melakukan penelitian vaksin DBD. Namun, masih belum bisa digunakan secara masal. "Tapi sebenarnya kalau misal pencegahan dilakukan dengan baik, DBD tidak akan berkembang. Itu terbukti di beberapa daerah," jelasnya.
"Saya imbau juga kepada tenaga medis, kalau ada anak panas langsung menetapkan diagnosa DHF (Dengue Haemorrhagic Fever), supaya berjaga-jaga. Antisipasi jika itu benar-benar DBD," tutupnya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
