
Tersangka ISP diringkus jajaran Subdit III Cybercrime Polda Metro Jaya, Senin, (28/1).
JawaPos.com - Momentum pesta demokrasi pemilihan presiden (Pilpres) 2019 dimanfaatkan oleh pelaku tindak penipuan. Seperti yang dilakukan oleh ISP. Pria asal Pulogadung Jakarta Timur itu terpaksa mendekam di balik jeruji besi, karena terbukti sudah menipu para korbannya dengan modus bantuan pinjaman tim pemenangan calon presiden (capres) Joko Widodo.
Laki-laki berusia 39 tahun itu menjerat para korbannya dengan iming-iming akan menerima bantuan uang pinjaman Rp 15 juta dari Yayasan Yenny Wahid dan Hary Tanoesoedibjo. Asalkan, korban terlebih dahulu menyerahkan uang administrasi sebesar Rp 500 ribu hingga Rp 650 ribu kepada pelaku.
Ditambah, bila Jokowi terpilih kembali menjadi Presiden RI, maka uang pinjaman yang sudah diberikan tak perlu dikembalikan. Karena pinjaman itu akan ditanggung oleh Jokowi.
Nyatanya, hal itu hanya akal-akalan pelaku agar dapat bisa mengambil uang dari tipu muslihatnya. Tak berpikir panjang mencatut nama besar tokoh politik putri Presiden Ke-4 RI dan pimpinan Partai Perindo, perbuatan jahat ISP terendus oleh polisi.
Jajaran Subdit III Cybercrime Ditreskrimum Polda Metro Jaya berhasil meringkus ISP di kediamannya di Pulogadung, Jakarta Timur, Jumat (24/1) malam.
"Pelaku ini (ISP) ditangkap karena menipu para korbannya dengan iming-iming akan mendapat uang Rp 15 juta dari Yayasan Yenny Wahid dan Hary Tanoe. Kalau Jokowi menang, maka uang itu tidak usah dikembalikan," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Argo Yuwono, Senin, (28/1).
Argo menjelaskan, pengungkapan kasus itu bermula saat para korban merasa tertipu dengan modus pelaku. Keluhan mereka pun akhirnya viral di media sosial (medsos). Dari situ, pihak kepolisian Subdit Cybercrime akhirnya melacak kebenaran dan bergegas mencari pelaku.
Informasi tersebut ditambah dari pengakuan para korban yang melaporkan diri ke Polda Metro Jaya pada 24 Januari 2018. Sehingga dengan mudah polisi melacak keberadaan pelaku hingga menangkapnya.
Dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka, polisi mendapatkan informasi bahwa pelaku sangat sistematis untuk merayu korban. Argo mengatakan, tersangka ISP ini terlebih dahulu melakukan survei ke pemukiman warga. Sasarannya adalah warga yang memiliki warung rumahan dan toko kelontong.
Dari situ akhirnya korban merasa tergiur dan menyerahkan sejumlah uang kepada tersangka ISP. Mereka dijanjikan uang pinjaman itu turun pada akhir Desember 2018.
"Karena uang pinjaman itu tidak kunjung turun, para korban akhirnya melapor ke Polda Metro Jaya," terang Argo.
Kenakan Pakaian Atribut PBNU
Untuk meyakinkan calon korbannya, pelaku pun sempat mengenakan atribut lengkap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Argo mengatakan, tercatat sudah ada 14 orang menjadi korban penipuan ISP.
Dari hasil kejahatan bermodus iming-iming bantuan pinjaman Capres Jokowi, Argo mengatakan, pelaku berhasil menggasak uang sebesar Rp 14 juta dari para korbannya.
"Uang itu sudah habis dipakai oleh tersangka ISP untuk kegiatan sehari-hari. Tersangka ini tidak bekerja alias pengangguran," terangnya.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Hasil Piala Presiden: Persib Bandung vs Persebaya Surabaya 1-1, Lanjut ke Extra Time!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi John Herdman Demi Semifinal!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Senpi hingga Narkoba di Sekolah Swasta di Jaksel Ternyata Milik Eks Ketua Yayasan
