Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Desember 2018 | 22.49 WIB

Melihat dari Dekat Khidmatnya Misa Natal di Gereja Berusia Dua Abad

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Suwaru, Pagelaran, Kabupaten Malang. - Image

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Suwaru, Pagelaran, Kabupaten Malang.

JawaPos.com- Misa Natal di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Suwaru, Pagelaran, Kabupaten Malang terasa begitu khidmat, Selasa (25/12). Sejak pagi hari para jemaat gereja kuno itu sudah berbondong-bondong memenuhi kursi hingga ke halaman.


Mereka menyanyikan firman Tuhan dengan khusyuk, serta mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Pendeta Sungkana STh. Meskipun sesekali terdengar tangisan dari anak-anak kecil para jemaat, namun dengan cepat bisa ditenangkan.


Di dekat mimbar pendeta terdapat pohon natal dengan ukuran cukup besar. Pohon cemara itu dihias cantik dengan pita dan ornamen putih. Tidak jauh dari sana terdapat lilin berukuran besar yang menyinari altar gereja.


Sementara di bagian luar gereja, para petugas kepolisian, TNI, dan Linmas setempat membantu pengamanan gereja saat pelaksanaan ibadah misa. Usai ibadah, para jemaat berkumpul bersama untuk menikmati hidangan yang disediakan. Dengan ramah para pengurus gereja mempersilakan JawaPos.com untuk ikut serta berbagi sukacita perayaan Natal.


Pada saat pelaksanaan ibadah, Pendeta Sungkanan juga memimpin pelaksanaan pembaptisan bagi 17 anak. Para batita yang sebagian besar masih digendong itu mengenakan busana serba putih. Suci. Air yang sudah didoakan kemudian dipercikan ke kening anak-anak yang masih bersih dari dosa itu.


"Tujuannya adalah untuk dibersihkan. Supaya tercatat menjadi anggota keluarga Allah. Dibasuhkan air sebagai simbol pembersihan. Semoga ke depan anak-anak ini menjadi anak yang bijak," terang Pendeta Sungkana usai makan bersama di gereja.


Pada perayaan Natal tahun ini, pengurus gereja mengambil tema 'Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita'. Sembari berbincang, Sungkana sedikit menjelaskan sejarah berdirinya GKJW Suwaru. Ia menegaskan bahwa bangunan gereja tidak dibangun oleh bangsa kolonial yang kala itu menduduki Kabupaten Malang, termasuk wilayah Pagelaran. Kini Gereja GKJW Suwaru berusia 201 tahun alias sudah dua abad.


"Yang membangun adalah warga Jawa setempat pada masa kolonial. Dibangun pada tahun 1817. Jadi bukan bangsa kolonial yang membangun," tegas Sungkana.


Ornamen gereja memang kental dengan arsiterktur peninggalan kolonial. Tampak jendela-jendela berukuran besar menghiasi tembok gereja. Daun pintu gereja juga masih sangat klasik. Dengan model dua pintu dan berlapis horizontal.


Belum lagi bangunan yang tinggi, dengan lantai jadul mengilap. Khas gedung jadul. Di luar gereja, tampak menara dengan salib besar di atasnya.


Sungkana menuturkan, beberapa benda peninggalan gereja dari pertama kali dibangun hingga sekarang masih tersimpan dengan baik. Salah satunya adalah kursi gereja. Kursi itu masih orisinil sejak zaman dulu.


"Ada peninggalan tuwung atau cawan suci. Biasanya untuk persembahan. Juga ada taplak peninggalan zaman dulu. Sekarang disimpan dengan baik di lemari khusus," kata laki-laki asal Kediri itu.


Tuwung yang usianya sudah ratusan tahun itu masih terawat dengan baik. Terbuat dari tembaga yang memancarkan kilau, seolah menggambarkan sisa masa kejayaannya.


Sungkana juga menceritakan, kegiatan bersih-bersih gereja rutin dilakukan menjelang pelaksanaan natal setiap tahunnya. Sedangkan para jemaat gereja rutin menyanyikan lagu-lagu rohani di rumah masing-masing.

Editor: Dida Tenola
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore