
Ilustrasi: sabu. Pasutri Produksi Sabu Rumahan, Harganya Sebanding Impor
JawaPos.com - Jaringan pengedar sabu-sabu di Kalimantan Timur semakin kreatif. Mereka tak lagi berjualan barang mematikan itu dengan mengandalkan pasokan dari luar daerah dan luar negeri. Jaringan narkoba di Samarinda bahkan sudah pada tahap memproduksi kristal mematikan itu. Skala industri rumahan. Hasilnya juga bisa bikin 'semangat'. Meski kualitasnya masih di bawah sabu-sabu asal Tawau, Malaysia.
Realita ini diketahui setelah jajaran Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kaltim menggerebek sebuah lokasi di Samarinda. Pada aksi tersebut, petugas menemukan alat dan bahan pembuatan narkoba jenis sabu. Termasuk sabu yang sudah dihasilkan dari praktik produksinya. Selasa (4/12) semua barang bukti tersebut digelar.
Diresnarkoba Polda Kaltim Kombes Ahmad Shaury menjelaskan, hasil pengungkapan ini tidak lepas dari peran masyarakat dan tim intelijen. Ada dugaan praktik pembuatan sabu di Gang Ketapi, Jalan Elang, Kelurahan Bandara, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda.
Berangkat dari informasi tersebut, jajarannya yang terdiri atas Tim Opsnal Subdit I dan Subdit II Ditresnarkoba Polda Kaltim langsung menelusuri dan menggerebek lokasi tersebut pada Jumat (30/11) pukul 22.00 Wita.
"Hasilnya positif. Kami temukan barang bukti peralatan dan bahan pembuatan sabu-sabu. Sifatnya home industry," beber Shaury sebagaimana diberitakan Kaltim Post (Jawa Pos Group), Rabu (5/12).
Petugas menangkap Reskiah alias Riski, 32, dan Lamengkeng alias Mengkeng, 32. Mereka mengaku sebagai sepasang kekasih. Saat penggeledahan di tubuh Riski dan di bawah tempat tidur, ditemukan barang bukti sabu.
Total seberat 67,85 gram bruto. Dibungkus dalam empat poket. Satu poket terbanyak berisi 50,53 gram bruto dan paling sedikit 1,82 gram bruto. "Sabu ini sudah siap diedarkan," ungkap Shaury.
Setelah menemukan sabu, petugas mencari barang bukti lain. Sebuah baskom tampak mencurigakan. Akhirnya diketahui berisi peralatan dan yang diduga memproduksi sabu. "Semua ditaruh di dalam baskom," ujar Shaury.
Dalam interogasi awal, Riski mengaku peralatan dan bahan tersebut dititipkan kepadanya dari seorang kenalan bernama Dani. Dani ini disebut mengantarkan baskom pada pertengahan November. Turun dari angkutan kota, Riski menyebut, Dani menutup baskom menggunakan sarung. Kemudian menghilang setelah menitipkan barang.
"Tersangka Riski menyebut dia hanya kurir. Yang punya Dani. Tetapi (Dani) sudah pamit katanya mau ke Jawa," sebut Shaury.
Soal dugaan kapan industri rumahan sabu ini sudah ada, Shaury menyebut, masih dilakukan pendalaman. Namun, dugaan sementara produksi ini memang sudah berjalan. Indikatornya, dalam botol distilasi terdapat cairan kuning yang setelah dicek laboratorium mengandung metamfetamina atau sabu. Termasuk barang bukti sabu yang siap dipasarkan. "Jadi, terbukti peralatan dan bahan yang kami sita ini untuk membuat sabu," tegasnya.
Kualitas sabu yang dihasilkan dari industri rumahan ini rendah jika dibandingkan dengan sabu yang selama ini beredar di Kaltim yang banyak dipasok dari Tawau. Dari bentuk sabu bersifat lebih halus atau seperti pasir. Dibandingkan sabu Tawau yang mirip gula batu.
Warnanya pun lebih putih, tidak bening dibandingkan sabu asal Tawau. Sabu-sabu dari Tawau yang dikemas dalam poket paling kecil biasa dihargai Rp 300 ribuan. Sementara harga 1 gram sabu-sabu yang diimpor dari Tawau dan dijual di Kaltim saat ini kisaran Rp 1–1,5 juta. "Kualitasnya lebih rendah. Tetapi untuk harga jual sama. Efeknya sendiri kami belum tahu," tutur Shaury.
Alat dan bahan pembuatan sabu pun diakuinya sangat mudah diperoleh. Seperti soda kue. Cukup dibeli di toko perlengkapan kue. Begitu pula pemutih pakaian yang bisa didapat di warung kelontong. Sehingga memang perlu keahlian bagi pelaku untuk meracik bahan-bahan yang ada untuk dijadikan sabu. “Kami masih kejar pemilik peralatan ini. Bagaimana dirinya mampu membuat sabu juga masih belum diketahui,” ujar Shaury.
Sementara itu, tersangka Riski berkilah sudah terjun lama dalam bisnis narkoba. Meski ada barang bukti rekap penjualan sabu dari 2015 hingga 30 November 2018, dirinya menyebut baru mengenal Dani Juli lalu. Dia dikenalkan oleh seorang keluarganya. Kemudian menjalin komunikasi melalui sambungan udara. “Lewat telepon saja. Nanti dia atur saya taruh sabunya di mana. Nanti ada yang ambil,” ujar Riski dengan santai.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
