Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 November 2018 | 12.55 WIB

Biadab! Tiga Paman Nodai Tiga Ponakannya

ILUSTRASI. Bunga, 15, Melati, 12, dan Mawar, 9 menjadi korban pelecehan seksual oleh paman mereka sendiri. - Image

ILUSTRASI. Bunga, 15, Melati, 12, dan Mawar, 9 menjadi korban pelecehan seksual oleh paman mereka sendiri.

JawaPos.com - Malang nian nasib tiga anak perempuan di bawah umur di Kecamatan Pontianak Utara ini. Panggil saja mereka dengan sebutan Bunga, 15, Melati, 12, dan Mawar, 9. Sejak sang ayah dan kakeknya meninggal, ketiga kakak adik kandung ini dititipkan di rumah pamannya. Tak lain adalah saudara kandung dari ayahnya.


Namun tak seperti yang dibayangkan. Lelaki dewasa yang diharapkan menjadi pelindung justru menghancurkan harapan dan amanah yang diberikan. Ketiga pamannya masing-masing berinisial AU, AK, dan AT, tega mencabuli Bunga, Melati, dan Mawar.


Kini, ketiga korban yang masih mengalami trauma itu mendapat pendampingan hukum sekaligus pendampingan psikologis dari Komisi Perlindungan Anak Indonesa Daerah (KPAID) Kalbar.


Komisioner KPAID Kalbar, Nany Wirayani mengungkapkan, persitiwa biadab yang dialami tiga bocah perempuan itu sebenarnya sudah terjadi cukup lama. Bunga, kata dia, merupakan korban pertama yang dicabuli oleh AU.


Dijelaskan Nany, Bunga bersama Melati dan Mawar awalnya tinggal serumah dengan AU. Saat mendapat pelecehan itu, Bunga tak bisa melawan. Ia hanya bisa pasrah. Sebab merasa tidak punya tempat tinggal lagi. Hingga akhirnya, Bunga sendiri dipindahkan tempat ke rumah pamannya yang lain, AK.


Rupanya, kata Nany, di rumah AK, Bunga pun juga tak aman. Ia kembali menjadi mangsa birahi oleh adik kandung mendiang ayahnya itu. Sementara Melati dam Mawar yang masih tinggal serumah dengan AU, juga mendapatkan perlakuan yang sama.


Bahkan satu orang pamannya, AT, yang tinggal serumah dengan AU juga ikut mencabuli dua ponakannya tersebut.


Lambat laun, perbuatan bejat ini pun terungkap. Pada 20 Agustus 2018, nenek korban, FN yang tinggal di Jakarta tiba-tiba pulang ke Pontianak. Tujuannya, kata Nany, FN ingin menjenguk tiga cucunya tersebut.


Setiba di Pontianak, FN langsung bertemu dengan Bunga yang masih tinggal di rumah AK. Saat pertemuan tersebut, Bunga pun bercerita kepada neneknya bahwa dia telah dicabuli oleh dua paman kandungnya sendiri, AU dan AK.


FN kemudian marah besar. Ia lantas mengambil keputusan untuk mengambil asuh cucunya. Namun, AK tidak mengizinkan. Bukannya sadar diri, FN justru diancam akan dikeroyok jika tetap nekat membawa pergi cucu-cucunya.


"Karena itu, nenek korban pun malaporkan pelaku ke Polresta Pontianak," kata Nany dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Selasa (13/11).


Dari laporan tersebut, sambung Nany, penyidik Polresta Pontianak melakukan visum terhadap korban Bunga. Kemudian, Bunga meminta penyidik agar menyelamatkan dua adiknya yang masih tinggal di rumah AU. Sebab, kepada penyidik, kedua adiknya itu juga telah diperlakukan sama seperti dirinya.


Pada 20 Agustus itu, penyidik meminta nenek korban ke KPAID untuk membantu menyelamatkan dua adiknya Bunga itu. "Hari itu juga kami langsung ke lokasi," ceritanya.


Upaya penyelamatan itu belum membuahkan hasil. Pihak KPAID tidak menemukan Melati dan Mawar. "Selepas magrib, kami pergi lagi. Lagi-lagi kami tidak menemukan mereka. Setelah keesokan harinya, pihak keluarga pelaku menyerahkan kedua korban," sambungnya.


Menurut Nany, berdasarkan pengakuan Melati, kekerasan seksual yang dialaminya sejak ia masih berumur 6 tahun. Sementara adiknya, Mawar juga mengaku dicabuli. Dia dipaksa melakukan oral seks.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore