
Kepala Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Malang Kota Lama Subekti menunjukkan peralatan wesel yang masih dioperasionalkan secara manual.
JawaPos.com- Stasiun Malang Kota Lama punya nilai sejarah tinggi. Stasiun tertua di Malang yang dibangun tahun 1879 itu menyimpan aura kekunoan tersendiri.
Meski namanya Kota Lama, stasiun ini justru tidak berada di wilayah Kelurahan Kotalama, melainkan di Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Kedungkandang. Stasiun dengan tujuh jalur ini menjadi persinggahan kereta-kereta dari arah utara (Surabaya, Sidoarjo, Bangil) ke barat (Blitar, Kediri, Tulungagung), maupun sebaliknya.
Stasiun yang terletak di Jalan Kolonel Soegiono ini tepat berada di belakang The Balava Hotel, yang berseberangan dengan Rumah Sakit (RS) Panti Nirmala. Meskipun dikelilingi oleh beberapa bangunan yang terbilang modern, Stasiun Malang Kota Lama tidak kemudian turut terbawa arus pembangunan. Pihak stasiun tetap mempertahankan ciri khas bangunan aslinya.
Bangunan Stasiun Malang Kota Lama ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunannya pun bersamaan dengan pembangunan jalur rel Kereta Api Bangil-Sengon-Lawang-Malang sepanjang 49 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1878 dan selesai pada tahun 1879.
Stasiun ini memiliki tujuh jalur. Salah satu jalurnya merupakan jalur menuju ke Depo Pertamina. Pada peron 1, terdapat bangunan emplasemen yang menggunakan struktur kayu dan atap pelana. Di bagian atas atapnya terdapat vestibule yang berfungsi untuk memasukkan cahaya matahari. Struktur ini hampir mirip dengan struktur emplasemen yang terdapat di Stasiun Blitar, yaitu dengan menggunakan sistem over kapping.
Kepala Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Malang Kota Lama Subekti mengatakan, dari awal berdiri hingga sekarang, stasiun ini masih terus berfungsi dan tidak pernah vakum. Meskipun, eksistensinya saat ini sudah agak tergeser dengan keberadaan Stasiun Malang Kota Baru. "Tidak pernah vakum. Karena sebenarnya stasiun ini lebih tua satu abad dibanding Stasiun Malang Kota Baru," ujarnya.
Setiap harinya, ada sekitar 32 kereta yang melewati stasiun tersebut. 22 diantaranya merupakan kereta api penumpang dan 10 kereta barang.
Subekti melanjutkan, tidak banyak renovasi yang dilakukan pada bangunan stasiun. Beberapa sudut sengaja dibiarkan agar tidak hilang nuansa kolonialnya. Hal itu bisa dilihat mulai dari gerbang depan stasiun.
Berbeda dengan stasiun Malang Kota Baru yang sudah menggunakan pintu kaca, stasiun ini masih setia dengan penggunaan gerbang dari jeruji besi berwarna hitam. Ketika masuk stasiun, calon penumpang langsung bisa melihat loket yang berhadapan dengan ruang tunggu.
Seluruh bangunan masih kental dengan nuansa zaman kolonial. Contohnya terlihat pada kursi di ruang tunggu. Masih menggunakan kursi besi bergaya lawas dengan cat berwarna biru muda yang disusun berjejer.
Pembatas antara ruang loket, ruang tunggu, dan peron pun hanya dibatasi oleh pagar besi setinggi pinggul orang dewasa. Tempat petugas untuk mengecek tiket masuk pun hanya bertempat di bilik kecil sebelum pintu masuk peron.
Memasuki area peron, terdapat emplasemen yang menggunakan struktur kayu dan atap pelana. Ketika berbelok ke kanan, maka akan ditemukan ruangan Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA). Di dalam ruangan tersebut, juga masih banyak alat-alat peninggalan jaman Belanda yang masih berfungsi.
Salah satunya yakni alat pengubah jalur atau wesel (dalam Bahasa Belanda: Wissel), serta peralatan persinyalan mekanik. Menariknya, wesel ini masih dioperasikan secara manual. "Semuanya masih manual, pakai tenaga manusia," katanya. Umur alat tersebut sama dengan bangunan stasiun ini sendiri.
Selain itu juga terdapat alat yang berfungsi untuk memberi info kepada petugas lintasan. Bahkan, telepon yang digunakan terlihat begitu jadul. Yakni telepon kabel yang serial numbernya harus diputar pada saat dial.
Bangunan ini sendiri mempunyai beberapa ruang. Antara lain ruang PPKA, ruang loket, ruang Kepala Stasiun, ruang keamanan, ruang laktasi, ruang unggu, dan ruang sarana.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
