Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 November 2018 | 01.44 WIB

Cakra Buana, Kritisi Perburuan Liar Lewat Lukisan

PAMERAN LUKISAN: Karya milik Friski yang menggambarkan tentang hewan-hewan yang kerap diburu secara ilegal. - Image

PAMERAN LUKISAN: Karya milik Friski yang menggambarkan tentang hewan-hewan yang kerap diburu secara ilegal.

JawaPos.com - Puluhan lukisan berjejer rapi di dalam gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), Minggu (4/11). Lukisan-lukisan tersebut menunjukkan beragam visual mulai dari pemandangan alam, view Kota Malang, hingga beberapa hewan.


Dari 36 lukisan yang dipamerkan, ada beberapa lukisan yang menarik perhatian. Lukisan tersebut bergambar Rusa, Gajah, dan Hiu yang masing-masing berada di frame berbeda. Menariknya, pada beberapa bagian tubuh yang menunjukkan ciri hewan tersebut sengaja diberikan warna yang sedikit ngejreng, yakni warna hijau terang. 


Pada gambar Rusa misalnya, pada tanduknya diberi warna hijau terang. Selanjutnya pada gambar gajah, warna hijau terang ada pada gadingnya. Sementara pada hiu, siripnya diberi warna hijau terang.


Bukan tanpa alasan, rupanya si pelukis memang sengaja memberikan warna tersebut agar bisa menarik perhatian pengunjung. Ya, dirinya ingin menunjukkan jika hewan-hewan tersebut kerap diburu untuk diambil bagian tubuhnya yang biasa diperjual belikan.


Friski Jayantoro, 21, laki-laki yang juga menjadi ketua pelaksana pameran bertajuk Cakra Buana itu lah pelukis dibalik karya-karya tersebut. Mahasiswa jurusan seni dan desain Universitas Negeri Malang (UM) itu mengatakan, pada pameran kali ini dia memang sengaja mengambil tema mengkritisi kehidupan, khususnya mengenai kepunahan. 


"Saya memilih tiga hewan tersebut karena banyak diburu," ujarnya kepada JawaPos.com, Minggu (4/11). Menurutnya, hewan-hewan tersebut diambil bagian tubuhnya oleh pemburu liar dan diperjual belikan secara ilegal.


Bahkan, sebelum melukis gambar tersebut, Friski juga sempat melakukan riset di beberapa tempat. Salah satunya riset mengenai hiu ketika dia berada di Bali. "Saya sering ke Bali. Di pelabuhan ada makanan sirip hiu, ternyata disitu nggak papa (untuk dimakan). Setelah browsing, ternyata hiu disana kerap diambil siripnya, trus hiunya langsung dikembalikan ke laut. Saya miris lihatnya," papar dia.


Oleh karena itu, melalui karyanya ini, Friski ingin mengedukasi masyarakat agar senantiasa menjaga habitat hewan. "Menggambarkan kemirisan. Saya ingin sampaikan agar semuanya menjaga dan melestarikan hewan," kata dia.


Pada pameran yang digelar mulai tanggal 3-5 November itu, terdapat total 36 lukisan dari 12 pekarya. Selain itu juga ada workshop membatik dari para mahasiswa Seni dan Desain UM. 

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore