
ILUSTRASI: Konflik antara buaya dengan manusia terus terjadi di beberapa daerah di Provinsi Riau.
JawaPos.com - Konflik antara buaya dengan manusia terus terjadi di beberapa daerah di Provinsi Riau. Selain meresahkan, tak jarang hewan predator tersebut mengganas dengan menyerang warga hingga mengakibatkan nyawa melayang.
Beberapa contoh kasus penyerangan buaya yang mengakibatkan hilangnya nyawa seperti di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil). Salah seorang nelayan bernama Muhadi ditemukan tewas pada akhir September lalu dengan luka cakar di tubuhnya.
Kemudian di Kuantan Singingi (Kuansing), dua remaja terluka parah karena duel dengan satwa dari zaman purbakala. Lalu yang terbaru di Kabupaten Kepulauan Meranti, seorang kuli tual sagu ditemukan dengan jasad tak utuh setelah sempat dinyatakan hilang selama tiga hari.
Bukan hanya di kabupaten saja, tetapi di Kota Pekanbaru yang menjadi ibu kota provinsi juga tak terelakkan dari rasa was-was keberadaan buaya. Sebab, dalam dua pekan terakhir, buaya itu menampakan wujudnya ke permukaan sehingga membuat warga yang beraktivitas di bantaran sungai menjadi waspada.
Menanggapi hal ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyatakan memang sebagian besar sungai di Riau masih menjadi habitat buaya. Salah satu faktor banyaknya penyerangan dikarenakan kurangnya rambu tentang keberadaan buaya di sekitar sungai itu.
Kepala Bidang I BBKSDA Riau Mulyo Hutomo mengatakan, inilah salah satu hal yang menjadi perhatian dari pihaknya. Pemerintah setempat tidak perlu menunggu BBKSDA untuk memasang rambu peringatan.
"Tidak perlu menunggu BBKSDA memasang, pemerintah daerah misalnya camat dan desa bisa memasang, karena biayanya tidak mahal," katanya, Jumat (2/11).
Untuk Kabupaten Kepulauan Meranti, Hutomo menyebut sungai-sungai di sana sudah dalam kategori wajib dipasang. Pasalnya di daerah ini paling sering terjadi serangan yang menyebabkan korban jiwa. "Meranti sudah wajib, nanti dikordinasikan sama pemerintah setempat," katanya.
Hutomo memperkirakan, buaya yang menyerang warga di Kabupaten Kepulauan Meranti berjenis buaya muara. Buaya ini memang lebih ganas dari jenis lainnya karena tidak hanya memangsa ikan.
Upaya lainnya yaitu, BBKSDA sudah memasang rambu peringatan adanya buaya di Kabupaten Kuansing. Itu dilakukan setelah adanya tiga kali penyerangan warga oleh buaya di sungai.
Sementara itu, untuk di Kota Pekanbaru kata dia, petugas sudah turun ke Sungai Siak untuk memeriksa kebenaran munculnya buaya di sana. Meski tak melihat langsung adanya buaya di sana, tetapi Hutomo menyatakan sudah saatnya rambu peringatan buaya dipasang di sungai terdalam di Sumatera ini. "Lurah dan camat bisa memasang, sebelum ada korban," ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
