Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 Oktober 2018 | 00.40 WIB

Hujan Pertama Mengguyur Malang, BMKG Minta Warga Waspada

Seorang pengendara motor menerjang hujan deras yang mengguyur kawasan Balai Kota Malang, Selasa (23/10) - Image

Seorang pengendara motor menerjang hujan deras yang mengguyur kawasan Balai Kota Malang, Selasa (23/10)

JawaPos.com - Musim kemarau belum berakhir, namun wilayah Kabupaten dan Kota Malang sudah diguyur hujan deras disertai angin dan kilat, Selasa (23/10). Beberapa pohon dilaporkan tumbang di sejumlah lokasi.


Berdasar pantauan JawaPos.com, hujan berlangsung sekitar dua jam. Mulai pukul 14.30-16.30 WIB.


Hujan turun secara rata di beberapa wilayah. Mulai Balai Kota Malang, Singosari, Pakisaji, hingga Kepanjen, Kabupaten Malang.


Hujan deras disertai angin turut menyebabkan pohon tumbang. Laporan yang diterima JawaPos.com, pohon tumbang terjadi di Blimbing dan Kedungkandang. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. 


Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso, Malang, Anung Suprayitno menjelaskan, merujuk prakiraan musim hujan 2018/2019, musim hujan sebenarnya belum terjadi bulan ini. "Berdasarkan prakiraan kami, awal musim hujan di sebagian besar wilayah Jawa Timur terjadi bulan November," jelas Anung kepada JawaPos.com.


Hal itu disebabkan kerena kriteria awal musim hujan adalah jika dalam satu dasarian curah hujan terukur 50 milimeter dan diikuti dua dasarian. "Dasarian Oktober adalah 21 hingga 31 milimeter. Jadi untuk musim hujan masih belum sesuai prasyarat," imbuhnya.


Dia menambahkan, sebelum memasuki musim hujan dikenal istilah pancaroba. Hal inilah yang terjadi saat ini. Cuaca ekstrem merupakan ciri dari musim peralihan. 


Beberapa cuaca ekstrem yang muncul di musim pancaroba adalah hujan lebat, angin kencang, petir, hingga puting beliung. Potensi cuaca ekstrem itu bersifat lokal dengan durasi yang tidak lama. "Cuaca ekstrem tersebut umumnya timbul dari pertumbuhan awan cumulonimbus (CB) karena proses konvektif atau pemanasan tinggi diiringi potensi uap air di udara yang cukup," papar Anung.


Pada masa-masa seperti ini, BMKG mengimbau agar masyarakat menyiapakan diri terhadap perubahan cuaca yang ekstrem. Baik dari sisi kesehatan dan membangun kewaspadaan terhadap potensi munculnya bencana hidrometeotologi. "Cermati kondisi lingkungan terutama pepohonan, baliho, dan daerah kemiringan-daerah aliran sungai," pungkasnya.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore