Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 Oktober 2018 | 12.55 WIB

Menengok Busana Pengantin Banjar dari Abad-15 Hingga Abad-19

Aula Kayuh Baimbai diberi catwalk untuk peragaan busana oleh tiga pasangan model. - Image

Aula Kayuh Baimbai diberi catwalk untuk peragaan busana oleh tiga pasangan model.

JawaPos.com - Aula Kayuh Baimbai diberi catwalk untuk sebuah fashion show sederhana, Sabtu (20/10) pagi. Tiga pasang model bak pengantin berjalan perlahan di atas karpet merah. Penonton pun terpukau.


Yang mengejutkan, riasan dan busana yang mereka kenakan adalah pakaian adat Banjar seasli-aslinya. Para pendahulu ternyata punya selera fashion yang tinggi. Yang kuno memang tak selalu kolot.


Penampilan pertama adalah Bagajah Gamuling Baular Lulut. Busana pengantin Banjar dari abad ke-15 sampai 16. Di sini, pengaruh budaya Hindu masih kental sekali.


Lalu Baamar Galung Pancaran Matahari dari abad ke-17 sampai 18. Inilah busana pengantin Banjar yang paling populer. Digemari masyarakat hingga sekarang.


Dan terakhir, Babajukan Galung Pacinan. Busana dari abad ke-19 ini mengawinkan budaya Banjar, Tionghoa dan Arab. Pakaiannya lebih tertutup dan longgar. Dengan pilihan warna merah ala kelenteng.


Pagelaran busana itu merupakan bagian dari peluncuran buku Busana Pengantin Adat Banjar Pakem dari Abad ke Abad. Penulisnya adalah desainer kondang Kawang Yoedha.


Mengusung suara dari masa lampau, bukan berarti Kawang Yoedha anti perubahan. Kawang tak masalah dengan sentuhan kontemporer pada busana pengantin Banjar.


"Boleh-boleh saja. Asal pijakannya jangan lepas. Kreasi modernnya jangan sampai melampaui 80 persen dari keseluruhan pakaian. Itu patokannya," jelasnya dikutip dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Minggu (21/10).


Misi Kawang bermula dari keresahan. Melihat busana pengantin Banjar yang bergeser terlalu jauh dari budayanya. Dalam bahasa yang lebih tegas: kehilangan jati diri.


"Contoh, mahkotanya Banjar, tapi bawahannya rok mengembang seperti boneka barbie. Ini pengantin Eropa atau pengantin Banjar?" cecarnya.


Maka, dia mengajak desainer muda untuk menggali dan melestarikan warisan budayanya. "Leluhur kita susah payah menggalinya. Bagaimana agar busana kita khas. Berbeda dengan 33 provinsi lainnya. Setiap detil ada filosofinya," bebernya.


Pengakuan bahkan datang dari Martha Tilaar, pengusaha kosmetik dan jamu terbesar di Indonesia. Kawang mengaku mendengar langsung dari mulut Martha yang terkagum-kagum melihat busana pengantin adat Banjar.


"Kalau Bu Martha saja kagum, kenapa kita malah malu? Desainer dan penata rias muda jangan mau kalah oleh gempuran globalisasi," tegasnya.


Namun, Kawang tak ingin melulu menyalahkan para desainer dari generasi belakangan. Dia menyadari, beberapa aksesori pada busana pengantin Banjar terbilang langka.


Tak bisa ditemukan di pasar karena memang tak ada lagi yang membuatnya. "Saya berharap, ke depan bisa bekerja sama dengan sejumlah perajin lokal," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore