Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Agustus 2018 | 01.10 WIB

Siswi SD Meninggal di Sekolah, Orang Tua Tuntut ke Polisi

Ilustrasi: police line. Siswi SDN 7 Menteng Marsha Demima meninggal di sekolah. - Image

Ilustrasi: police line. Siswi SDN 7 Menteng Marsha Demima meninggal di sekolah.

JawaPos.com - Kematian Marsha Demima, masih meninggalkan duka bagi keluarga. Mereka tampaknya belum menerima sepenuhnya. Orang tua bocah berusi 12 tahun itu pun menuntut sekolah ke jalur hukum. Pihak kepolisian dari Polres Palangka Raya sudah menerima aduan dari pihak keluarga Marsha Demima.


“Kita sudah membuat laporan, tinggal menunggu tindak lanjutnya nanti,” kata Ayah Marsha, Epri Deliung saat dibincangi Kalteng Pos (Jawa Pos Group) di kediamannya Jalan Merdeka, kemarin (1/8).


Intinya, pihak keluarga tidak puas dengan penjelasan pihak SDN 7 Menteng, tempat anaknya menuntut ilmu. Selain itu, juga untuk memberikan efek jera. Hal ini agar ke depan pihak sekolah lebih mengawasi anak didik beraktivitas di lingkungan belajar.


"Hal itu penting diperhatikan karena anak merupakan pemberian yang sangat berharga Tuhan. Dan sampai saat ini, kita juga belum dapat menerima kejadian tersebut,” ungkap Epri.


Dia meyakini bahwa putri keduanya tersebut sebelumnya tidak mengidap penyakit apa pun. Di rumah, Masrsha dikenal sebagai anak yang ceria dan aktif dalam melakukan setiap pekerjaan.


Niat sekolah putri kedua dari tiga bersaudara tersebut juga sangat tinggi. Itu tampak dari cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter, dengan tekad merawat bapa dan mama ketika tua kelak.


“Dia memiliki karakter yang cukup berbeda dan suka memberikan perhatian kami. Kalau saat libur, setiap bangun pagi akan menghabiskan waktu untuk melayani kami. Dia tidak segan- segan menawarkan kopi atau makanan,” imbuhnya sembari mengusap airmata yang membasahi pipinya.


Diketahui, seorang murid SDN 7 Menteng meninggal ketika mengikuti olahraga di sekolah, Selasa (31/7). Marsha Demima tiba-tiba pingsan di tengah lapangan. Ketika itu, dia sedang bermain bola kasti bersama teman-temannya.


Anak SD itu tiba-tiba tersungkur di tanah. Waktu kejadian, tidak ada guru olahraga yang menemani murid-murid bermain. Tidak ada yang memantau.


“Guru olahraga yang saya tahu belum datang ke sekolah, belum tahu apa alasan guru olahraga tak ada di sekolah,” ujar Kepala Sekolah SDN 7 Menteng, M Asad, ketika dibncangi awak media di ruangan kamboja RSUD dr Doris Sylvanus.


Ketika murid nahas yang memiliki bobot sekitar 60 kilogram itu tergeletak di tanah, teman-temannya berteriak minta tolong. Ketika itu kepalasekolah sedang berada di dalam kantor. Kejadiannya sekitar pukul 09.45 WIB. Atau berselang 45 menit berolahraga.


Marsha Demima langsung dilarikan ke rumah sakit oleh guru. Sempat mendapatkan penanganan pertama. Namun, tidak lama kemudian, Marsha dinyatakan meninggal dunia.


Sementara itu, pihak SDN 7 Menteng mengaku tak ciut dengan laporan yang dilakukan pihak keluarga dari anak didiknya itu. Pihaknya tak bisa berbuat banyak meski sudah menjelaskan kronologi yang sebenarnya.


“Soal keluarga menuntut itu merupakan hak mereka. Tetapi mereka tampaknya sudah menerima. Tidak menjadi masalah,” ujar Kepala Sekolah, Muhammad As’ad usai melakukan kunjungan ke rumah duka.


Bersama orang tua dan para guru yang ada, mereka meminta bantuan dari pemerintah kota untuk menyediakan tabung oksigen untuk anak-anak. Hal itu untuk mengantisipasi dan sebagai pertolongan pertama.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore