
Ilustrasi petai.
JawaPos.com - Harga petai di sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang cukup mencengangkan. Bahkan harganya sempat melampaui harga daging sapi. Diduga kelangkaan persediaan membuat dua varietas polong-polongan khas Asia Tenggara, petai dan jengkol tersebut melambung tinggi.
Menurut pantauan JawaPos.com di dua pasar tradisional, yakni Johar dan Peterongan pada Minggu (15/7), mulai banyak pedagang yang mengaku tak lagi berjualan petai dan jengkol. Kalaupun ada, harga yang dipatok, cukuplah tinggi.
"Belum panen memang, jadi ya stok menipis. Wajar harga naik. Saya saja jengkol setelah lebaran sudah mulai tidak jual," ujar Satinah, 64, pedagang petai dan jengkol di Pasar Induk Johar, Kota Semarang, Minggu.
Dengan kian menipisnya kiriman petai yang ia terima dari pemasok langganannya asal Solo, Jawa Tengah, Satinah kini bahkan harus menjual barang dagangannya dengan harga cukup tinggi untuk bisa balik modal. Yakni Rp 100 ribu per satu ikat.
"Satu ikat itu isinya bisa 20 puluh buah, satunya dijual lima ribu dari yang dulu cuma tiga ribuan. Yang jual di sini (Pasar Johar) tinggal saya, ya jadi tetap laris. Tapi kalau jengkol, saya sudah nggak kebagian kiriman," sambungnya.
Situasi agak berbeda dapat ditemui di Pasar Tradisional Peterongan, Semarang Selatan. Di sini bahkan tak dapat didapati pedagang yang menjual menjual petai dan jengkol sama sekali.
"Memang petai setahu saya pasca Idul Fitri kemarin sudah jarang yang jual di Peterongan. Jengkol yang saya dan kakak saya jual pun sekarang sudah tidak ada," ujar Wartini, 43, pedagang sayur di Pasar Peterongan.
Alasan yang sama juga disebutkannya terkait kelangkaan dua bahan pangan tersebut. Yakni belum memasuki masa panen sehingga tak ada yang bisa dijual.
Wartini sebenarnya mengaku sempat ditawari berdagang jengkol oleh perantara. Namun, dengan harga yang dipatok terlalu tinggi, ia pun mengurungkan niatnya.
"Kalau pemasok itu dari Lampung, setelah itu dikirimkan ke pemasok bawahnya di Gunungpati. Dari Lampung saja jualnya sudah Rp 55 ribu per kilo, lha saya harus jual berapa?" katanya lagi.
Pedagang asli Peterongan, Semarang Selatan tak berani menjual jengkol yang dipatok Rp 60 ribuan oleh pemasok di Gunungpati sana. Padahal, menurutnya sebelum lebaran lalu harganya hanya Rp 36 ribu per kilogramnya.
"Saya biasa pesan sepuluh kilogramnya tiap hari. Jelang lebaran kemarin mulai dibatasi lima kilogramnya tiap hari. Pasti habis, karena selain yang beli rumahan, juga warung gitu," tutupnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
